Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Peran Krusial Relawan Putri Mewujudkan Rumah Syukur

02 Juli 2024 19:00

Peran Krusial Relawan Putri Mewujudkan Rumah Syukur

Peranan Relawan Putri Dalam Pembangunan Rumah Syukur

Ikut serta menjadi penunjang dalam program pembangunan Rumah Syukur, berarti relawan putri berperan penting dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa, sebagai bentuk cinta tanah air berjiwa kemanusiaan dan menjunjung tinggi nilai gotong royong terhadap sesama. 

Relawan putri yang terlibat dalam program kemanusiaan dari siswi Maqooshidul Qur’aanil Mubiin (MQ), Forum Shillaturrochmi Ikhwan Putri (FSIP) dan Jam'iyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS) dan para ibu warga Shiddiqiyyah umumnya. Meski di tengah kesibukan pribadi lainnya, mereka tetap memprioritaskan tanggung jawabnya sebagai petugas masak, “Sebelum berangkat, kami menyelesaikan tugas rumah tangga dulu. Setelah itu, kami piket masak”, terang Ibu Dhillah, salah satu bendahara relawan putri Jombang.

Bagi mereka, kesadaran dalam aktif berkegiatan di Shiddiqiyyah merupakan bentuk Sami’na wa Atho’na kepada Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi, Nyai Shofwatul Ummah, Sang Maulana M. Subchi Azal Tsani, dan Ibu Durrotun Mahsunnah, yang selalu membimbing dan memberikan contoh untuk aktif di segala lini perjuangan Shiddiqiyyah, sebagaimana praktik dari “Hidup, Gerak, Manfaat, Ridho Alloh”. 

TEKNIS PENYEDIAAN KONSUMSI

Perihal jadwal memasak, setiap daerah memiliki ketentuannya masing-masing. Hal ini disesuaikan dengan jumlah relawan dari tiap organisasi yang terdapat pada daerah tersebut.

Seperti di Rumah Syukur Sidopulo-Jombang, penanggung jawab konsumsi dari Organisasi IKHWAN,  menggunakan sistem bergilir untuk piket sebagai petugas masak. Mulai dari angkatan pertama hingga calon IKHWAN 9. Setiap harinya terdapat 8-9 relawan putri. Rumah Syukur Plandaan-Jombang, juga memakai sistem giliran piket, dari murid MQ 12 dan DPC OPSHID Plandaan.

Dalam menunjang kelancaran bahan mentah konsumsi, sumber dana berasal dari shodaqoh warga Shiddiqiyyah dengan nilai sesuai kesepakatan tiap organisasi. Selain berupa uang, adapula warga yang berpartisipasi menyumbang bahan mentah makanan, “Di samping ikut masak, ada juga yang bawa sayuran, ada yang petani atau pengusaha sayuran. Kita maksimalkan dan manfaatkan semuanya untuk kelancaran konsumsi. Karena amunisi untuk pekerjaan penting. Dari dapur ibu-ibu yang mengepul ini, makanan siap saji bisa dinikmati pekerja", ucap relawan putri dari IKHWAN dengan antusias. 

Biasanya, uang belanja konsumsi dalam sehari senilai 150 ribu dengan menu makanan berbeda setiap harinya. Logistik yang disediakan PJ konsumsi berupa beras, gula, minyak, dan kopi. “Sisanya jika ada kekurangan ya ditambahi oleh petugas yang piket pada hari itu", ujar Ibu Lailatur Rofiah, PJ Konsumsi RSKILHS Sidopulo-Jombang.

Relawan putri menyediakan konsumsi untuk 3-4 kali makan. "Kurang lebih yang kerja pagi siang sore itu 12 orang, kalau malam kisaran 20an. Maka kamipun kalau masak itu mengira-ngira, porsi disesuaikan yang kerja", lanjut Ibu Lailatur Rofiah.

"Untuk sarapan pagi disediakan nasi, kopi, teh, dan camilan. Makan siang berupa nasi, sayur, dan lauk pauk. Dan untuk lembur malam, disiapkan konsumsi yang lebih banyak", tambahnya. 

Di seluruh Indonesia Raya, dimana pembangunan Rumah Syukur berada, disitulah relawan putri juga ada.  Pembuktian semangat perjuangan ini tidak hanya dilakukan dalam bidang memasak saja. Seperti yang dilakukan relawan putri di provinsi Bengkulu Utara, tak hanya masak yang dilakukan, tapi terjun ke lokasi pembangunan untuk membantu tugas pembangunan.

relawan putri membangun rumah.webp (1.06 MB)
Relawan putri di RSKILHS Bengkulu, ikut serta mengerjakan tugas pembangunan

"Dalam sehari relawan putri ada 4-5 orang. Masing-masing bawa masakan dari rumah. Kalau sudah di lokasi gak langsung pulang, kita buatkan kopi, terus kita ikut bantu pembangunan biar cepat selesai juga. angkat bata, angkut adukan semen dan sebisanya yang bisa kita bantu. Karena ini bagian dari tanggung jawab bersama”, Ibu Siti Aisyah, relawan putri dari Organisasi JKPHS Bengkulu.

Beliau menjelaskan kontribusi relawan putri dalam kelancaran program ini yang mencerminkan kebiasaan bergotong royong. “Peranan relawan putri sangat menunjang. Ibu-ibu ikut andil urusan dana dan biasanya kita berusaha ngasih solusi jika para bapak-bapak menanyakan ide saat musyawarah. Gimana caranya biar lancar, kita usahakan semuanya semampunya”.

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Nuraida