ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kretek: Harta Karun Indonesia Yang Dianaktirikan
03 Oktober 2024 07:00

Sepertinya kita semua bisa setuju bahwa salah satu karakteristik yang membuat Bangsa Indonesia istimewa adalah kreatifitas. Dalam artian, suatu komoditas yang tidak asli berasal dari Indonesia, bisa dikreasikan ulang oleh rakyat Indonesia menjadi khas Indonesia dan menjadi komoditi baru. Contohnya beragam, mulai dari dunia kuliner, bahasa, hingga kesenian. Tak terkeculi, dunia pertanian.
Pada sekitar paruh kedua tahun 1800an atau abad 19, seorang asal Kabupaten Kudus bernama Haji Djamhari sedang menderita penyakit bengek (asma—red). Haji Djamhari lalu mencoba merajang cengkeh menjadi kecil-kecil dan meramunya dengan racikan tembakau kering. Kretek kretek… begitulah bunyi 2 rempah itu ketika digulung dan dibakar. Dengan berkat rochmat Alloh melalui perantara kretek, asma Haji Djamhari sembuh, tak kambuh lagi. Dan lebih dari itu, ia berhasil mengkreasikan tembakau yang bukan tanaman asli Indonesia, dengan cengkeh yang merupakan rempah asli Indonesia, menjadi sebuah produk baru asli Indonesia: kretek.
KRETEK ADALAH INDONESIA
Sejak temuan Haji Djamhari itu, beliau mulai memasarkan kretek buatannya di tokok-toko obat. Kemudian tahun 1900an didirikanlah pabrik-pabrik yang memproduksi kretek dan terciptalah sebuah industri yang kuat. Popularitas kretek melejit, baik di kalangan bumiputra maupun di kalangan bangsa kolonial Belanda. Kretek dinilai memiliki cita rasa yang lebih sedap dan gurih daripada rokok putih bikinan barat, berkat campuran rempah-rempah Indonesia.
Salah satu bahan baku kretek, tembakau, dijuluki oleh dunia barat dengan nama daun emas. Terutama pada masa perang, rokok terus diproduksi untuk suplai konsumsi para prajurit perang. Rupanya, rokok dikaitkan dengan stamina yang prima dan ketahanan bersiaga para prajurit perang.
Tak terkecuali kepulauan Hindia. Tembakau diyakini dibawa masuk ke Indonesia melalui Portugis yang datang ke Selat Malaka. Namun, sebelum Portugis datang memperkenalkan tembakau untuk dihisap, rakyat Nusantara sudah lebih dulu mengenal tembakau untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Di bumi Indonesia yang subur, tanaman tembakau berjaya. Terlebih, setelah tanaman tembakau melebur dengan kondisi demografis serta ilmu pertanian lokal. Pemerintah belanda memang melihat Indonesia sebagai lahan basah untuk memproduksi tembakau dalam jumlah besar, maka didatangkanlah berbagai varietas tembakau dari seluruh dunia. Hasilnya, tentu hampir semua jenis tumbuh sempurna.
Pengaruh besar tembakau dalam perekonomian bisa ditarik lebih jauh sebelum masa perang dunia, yaitu sejak pasca perang Jawa. Pemerintah Belanda yang mengalami kerugian besar akibat perang Jawa, menerapkan sistem tanam paksa tembakau, kopi, dan sebagian kecil cengkeh dan vanili. Pada saat itu, kerugian akibat perang Jawa sebesar 20 juta Gulden, yang bernilai setara 170 miliar rupiah pada tahun 1800an. Perlu dicatat, nilai tersebut dengan faktor inflasi bisa bernilai sekitar 1200 triliun rupiah saat ini. Bagai sulap, kerugian 20 juta Gulden bisa tertutup dalam waktu singkat berkat tanam paksa, bahkan kembali membawa keuntungan 2 kali lipat yaitu 40 juta Gulden.
Namun di balik keuntungan fantastis yang diraup pemerintah Belanda, hanya sedikit bagian yang disalurkan kepada para pekerjanya. Akibatnya, kesenjangan perekonomian antara rakyat kelas bawah dan rakyat kelas atas menjadi semakin jauh. Yang miskin menjadi melarat, yang kaya menjadi tajir melintir. Lebih dari itu, sistem tanam paksa menyebabkan penyakit menular tahun 1820an (kolera) berkembang biak dengan cepat di kalangan rakyat kecil.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur