Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kretek: Harta Karun Indonesia Yang Dianaktirikan

03 Oktober 2024 07:00

Kretek: Harta Karun Indonesia Yang Dianaktirikan

Di samping tembakau, ada rempah pusaka Indonesia: cengkeh. Cengkeh atau Syzygium Aromaticum adalah tumbuhan asli Indonesia dan hanya bisa tumbuh serta berkembang baik di negeri kita. Cengkeh (bersama pala) adalah komoditas yang menjadi incaran utama pada penjajahan di Nusantara. Dikutip dari buku Kretek, Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia terbitan KNPK (Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek):

“Kolonialisme Asia sesungguhnya dimulai dari pencarian, penemuan, dan penguasaan tanaman eksotik dari kepulauan Maluku ini. Selama berabad-abad, komoditas berharga diperebutkan oleh bangsa-bangsa Asing”.

Mengapa cengkeh begitu diperebutkan? Cengkeh sudah lama dikenal sebagai  rempah dengan sejuta manfaat. Hampir semua bagian tanaman cengkeh bisa dimanfaatkan, baik itu bunga, tangkai bunga, maupun daunnya. Di dunia pengobatan, kandungan eugenol dalam cengkeh umum digunakan sebagai pereda nyeri. Selain itu, cengkeh dimanfaatkan sebagai penyedap rasa alami, ramuan wewangian, dan pengawet bahan pangan. Berkat cengkeh, orang-orang Eropa untuk pertama kalinya dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim. Dikutip dari buku Ekspedisi Cengkeh oleh Puthut EA dkk, yang diambil dari prosa Blair Bersaudara:

"Kemampuan menyimpan makanan lebih baik dari yang kami makan sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar—dan kota-kota dagang pun mekar. Perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman pencerahan dan kemudian Revolusi Industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang sangat kuat dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni" (Blair & Blair, 2010; 30-31).

Terlebih, setelah penemuan kretek oleh Haji Djamhari yang juga melibatkan cengkeh sebagai campuran di dalamnya, nilai cengkeh semakin naik dan permintaan pasarnya semakin luas dan meningkat.

Itulah tembakau dan cengkeh, dua komoditas yang melebur jadi satu dalam sebatang kretek: kaya manfaat, cita rasa, dan merupakan dinamisator ekonomi bumiputra.

Di Indonesia, sekitar 94% produksi rokok adalah kretek, dan sisanya adalah rokok putih. Setiap tahun sejak tahun 2013, Indonesia memproduksi sekitar 300 miliar batang rokok. Dari pajak cukai saja, rokok telah menyumbang ratusan triliun untuk pendapatan negara. Kretek sebagai pembayar pajak besar sudah ada sejak sebelum masa kemerdekaan. Pada saat itu diberi nama tabacsaccijn (banderol). Pada 1933, misalnya, jumlah pajak kretek yang harus disetorkan kepada negara hampir mencapai 3.000.000 gulden.

Ini merupakan bukti bahwa kretek adalah raksasa penyokong perekonomian nasional. IHT (Industri Hasil Tembakau) selalu bertahan melalui berbagai krisis ekonomi, karena bahan bakunya mayoritas berasal dari bumi Indonesia sendiri, berkemampuan menyerap banyak tenaga kerja, dan konsumennya juga lokal.

Tak mengherankan apabila keuntungan yang dihasilkan dari IHT selalu dimonopoli, atau berusaha dimatikan.

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida