ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaHak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
· 7 menit baca · Diperbarui
PERBEDAAN DEMOKRASI HAK SUARA DAN HAK BICARA
|
Demokrasi Hak Suara |
Demokrasi Hak Bicara |
|
|
Mekanisme |
Pemungutan suara individu. Hak suara masing-masing sama tanpa melihat kualitas manusia |
Bermusyawarah bersama. Hak bicara berbeda sesuai dengan kualitas manusia yang berbicara |
|
Orientasi |
Kuantitas, jumlah suara individu (nilai angka rawan sekali direkayasa) |
Kualitas, mutu pemikiran bersama (pemikiran akan sulit direkayasa) |
|
Pertanyaan |
Siapa yang menang? Siapa yang kalah? |
Apa keputusan terbaik untuk kepentingan bersama? |
|
Hasil |
Ada pihak yang menang dan yang kalah. Ada kecenderungan yang menang menguasai, yang kalah menjadi oposisi. |
Keputusan terbaik bagi semua pihak. Karena keputusan bersama, semua pihak bertanggungjawab atas kebijaksanaan keputusan. |
|
Kecenderungan |
Adanya potensi perpecahan |
Timbulnya persatuan dan kesatuan |
|
Keluaran |
Penguasa |
Pemimpin |
|
Landasan |
Perhitungan jumlah suara |
Sila ke-4 Pancasila |
Sesuai dengan rekam jejak demokrasi di Indonesia, sebaik apapun kualitas calon pemimpin rakyat Indonesia, sebaik apapun kompetensi calon wakil rakyat jika melalui proses yang jauh dari hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, bakalan berpotensi menjadi penguasa.
Bahkan yang harusnya menjadi wakil aspirasi rakyat bisa tidak mewakili rakyat yang memilihmya. Malahan sejak adanya pilpres langsung, pileg langsung, mulai muncul perpecahan; misalkan muncul adanya istilah ‘kecebong' dan kampret’, atau sekarang 'gemoy' dan 'anak abah', mereka menjadi saling olok. Pemenang pemilu sebagai penguasa, pihak yang kalah dan menjadi korban utama adalah rakyat.
Terlebih saat ini, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang terdiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dipilih melalui pemilihan umum hanya berfungsi untuk melantik Presiden dan/ atau Wakil Presiden hasil pilpres. Sehingga beliau-beliau sebagai pemenang mayoritas pemilu yang terhormat di Senayan itu sulit mengontrol kinerja pemegang mandat rakyat, penyelenggara pemerintahan, yaitu Presiden dan Wakil Presiden.
Jangan sampai setiap lima tahun sekali, kesalahan itu selalu diulang-ulang, sudah menghabiskan dana trilyunan rupiah tapi rakyat tetap menjadi korban dan menjadi pihak yang selalu kalah. Padahal, konsep demokrasi adalah rakyat (demos) pemilik kekuasaan tertinggi (kratos).
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari