ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Samini: Tersingkir Karena Miskin
11 Oktober 2023 17:00
PEMALANG - Menjadi miskin bukan pilihan hidup bagi setiap orang. Terkadang, menjadi miskin membuat seseorang bisa terpojok untuk membuat keputusan yang sebenarnya tidak diinginkannya. Hal seperti itu yang terjadi pada Mbah Samini dan keluarganya. Di tengah hidupnya yang serba kekurangan, Mbah Samini terpaksa harus berpindah-pindah tempat tinggal karena tak berdaya mempertahankannya.
Mbah Samini (77 tahun) seorang janda fakir miskin yang memiliki 5 anak, tinggal bersama anak pertamanya ibu Purwati (36 tahun) yang sudah menikah dan memiliki 4 anak. Mbah Samini ditinggal wafat oleh suaminya sekitar tahun 2018 silam. Setelah itu, Mbah Samini hidup bersama anak pertama, menantunya, dan ketiga cucunya di dalam rumah sederhana di atas tanah tempat tinggalnya.
Mbah Samini dan keluarga tinggal di Desa Sikasur, Kec. Belik Kab. Pemalang. Belik merupakan wilayah lereng Gunung Slamet. Sudah sejak dahulu, Belik diberkati dengan tanah yang subur, dan kekayaan alam berupa material tambang. Hal itu menyebabkan banyak perusahaan tambang pasir dan batu berdatangan ke Belik untuk membuka area pertambangan disana. Salah satunya adalah H. Sokim, seorang pemilik perusahaan tambang.
H. Sokim membuka area pertambangan di sekitar tempat tinggal Mbah Samini. Dan pada tahun 2020, H. Sokim membeli tanah milik tetangga Mbah Samini, tepat di sebelah tanah milik Mbah Samini. Tanah tersebut dikeruk hingga tepat pada batas tanah milik Mbah Samini dan menjadikan jurang yang vertikal dan curam sedalam lebih dari 10 meter.
Dari situ, sebuah kekhawatiran muncul. Mbah Samini khawatir terjadi longsor pada tanah tempat tinggalnya, dikarenakan kerukan tanah yang dalam tersebut. Walhasil, Mbah Samini dan keluarga berencana untuk pindah, dan disampaikannya kekhawatiran serta rencana tersebut pada H. Sokim. Pihak H. sokim kemudian menawarkan lahan miliknya yang lokasinya di tepi jalan, tetapi lebih rendah dari jalan raya. H. Sokim juga memberikan biaya untuk pindah sebesar 3 juta.
Karena tidak memiliki tempat tinggal lain lagi, keluarga malang tersebut akhirnya berpindah ke tanah yang di tawarkan H. Sokim. Mereka memboyong material dari rumah sederhana mereka sedikit demi sedikit ke tanah yang baru. Rumah mereka dari awal memang sudah tidak layak huni, dan lokasi yang tanah baru tidak lebih baik lagi.
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang
- Dari Zona 1 untuk Khususul Khusus: Ketika Satu Excavator Membawa Pesan Besar
- Bantuan Rumah Gratis di Tanggamus, Wujud Syukur Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Untuk Orang Tua Tunggal di Pati
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang