ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiKongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
· 10 menit baca
RELEVANSI NILAI SUMPAH PEMUDA SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL
Nilai Sumpah Pemuda dapat dibaca sebagai pelajaran tentang cara membangun kehidupan bersama di tengah perbedaan. Persatuan membutuhkan tujuan yang disepakati. Para pemuda 1928 tidak harus memiliki latar belakang identik untuk mendukung kemerdekaan. Mereka menemukan titik temu yang lebih luas daripada identitas kelompok masing-masing.
Pentingnya pendidikan untuk diarahkan pada perluasan wawasan dan kemampuan berpikir kritis. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa pengetahuan dapat membantu masyarakat memahami ketidakadilan, membaca perubahan dunia, dan merumuskan alternatif. Pendidikan yang bermakna bukan hanya pemindahan informasi, melainkan juga pembentukan tanggung jawab sosial.
Perbedaan perlu dikelola melalui dialog dan organisasi. Kongres pemuda memperlihatkan pentingnya ruang pertemuan yang memungkinkan gagasan diuji, perbedaan dibicarakan, dan keputusan bersama dirumuskan. Dalam kehidupan sekarang, semangat ini dapat diwujudkan dengan menghargai pendapat, menolak diskriminasi, serta bekerja sama lintas daerah dan kelompok.
Sehingga simbol kebangsaan perlu disertai tindakan nyata. Menyebut persatuan tidak cukup jika dalam praktiknya masih ada perlakuan tidak adil atau pengucilan. Semangat Sumpah Pemuda menuntut konsistensi antara komitmen dan perilaku: menghormati sesama warga, menjaga ruang publik, dan mengutamakan kepentingan bersama tanpa menghapus keragaman budaya.
Dan bahasa menjadi salah satu unsur penting dalam pembentukan identitas Indonesia. Di tengah keberagaman bahasa daerah, pemilihan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memberi ruang komunikasi yang dapat melampaui batas etnis dan wilayah. Gagasan bahasa persatuan telah muncul sebelum Kongres Pemuda II dan terus berkembang melalui interaksi antarorganisasi.
Bahasa persatuan tidak mengharuskan masyarakat meninggalkan bahasa daerahnya. Maknanya justru terletak pada adanya sarana komunikasi bersama yang memungkinkan orang dari latar belakang berbeda bekerja sama. Dalam proses kebangsaan, bahasa menjadi jembatan untuk menyebarkan gagasan, mengadakan pertemuan, menulis, dan merumuskan tujuan politik.
Penggunaan nama “Indonesia” juga memperlihatkan perubahan cara masyarakat membayangkan dirinya. Istilah tersebut berkembang menjadi identitas politik yang digunakan organisasi dan gerakan pemuda. Dengan demikian, tanah air, bangsa, dan bahasa dalam Sumpah Pemuda saling melengkapi: wilayah memberi ruang bersama, bangsa memberi ikatan politik, dan bahasa memungkinkan komunikasi lintas perbedaan.
Sehingga Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan hasil proses sejarah yang melibatkan pendidikan, pengalaman menghadapi kolonialisme, pertumbuhan organisasi, dan perjumpaan para pemuda dari berbagai wilayah. Kesadaran sebagai bangsa Indonesia tidak lahir seketika. Ia tumbuh melalui pembacaan sejarah, pertukaran gagasan, dan upaya mencari tujuan bersama di tengah perbedaan.
Organisasi seperti Budi Oetomo, Sarekat Islam, Indische Partij, dan Perhimpunan Indonesia berkontribusi melalui jalur dan strategi yang beragam. Kongres Pemuda II menjadi kunci pembuka untuk menegaskan identitas bersama melalui satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan.
Makna utama Sumpah Pemuda terletak pada kemampuan menjadikan keragaman sebagai dasar persatuan, bukan sebagai alasan untuk terpecah. Nilai tersebut tetap relevan apabila diterjemahkan ke dalam tindakan: membuka ruang dialog, memperluas akses pendidikan, menolak diskriminasi, serta memelihara rasa tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.(OPSHID Media).
----------------------
Bersumber :
- Sejarah Nasional Indonesia Jilid V (1990) oleh Poesponegoro, M. D. dan Notosusanto, N.
- Mohammad Hatta: Biografi Politik (1990) oleh Noer, D.
- Pengantar Sejarah Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai Nasionalisme (1993) oleh Kartodirdjo, S.
- Jati Diri Bangsa Kyai Muchammad Mukhtar Mu’thi Sang Mujadid Wawasan Kebangsaan (2022) oleh Ir. Haryo Sumantri dan Ir. Edi Setiawan S.E., M.Si.
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari