ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
15 Agustus 2026 17:00
Saat ini, terdapat lebih dari 200 negara di dunia yang masing-masing mengadopsi bendera nasional sebagai penanda resmi kedaulatan, identitas hukum, dan wakil sah negara di panggung internasional.
Secara historis, bendera merupakan salah satu bentuk komunikasi visual tertua. Sebelum bahasa tulis tersebar luas, masyarakat mengandalkan panji, spanduk, dan simbol bergambar untuk mengidentifikasi kelompok, mengumpulkan anggota, dan memberikan isyarat dari jarak jauh. Kemudian dalam perkembangannya, bendera diadopsi secara khusus sebagai lambang resmi kedaulatan negara.
Sejarah bendera pada umumnya selalu berkaitan erat dengan sejarah penghormatan terhadap warna yang digunakannya. Begitu pula dengan bangsa Indonesia yang memilih merah dan putih sebagai bendera nasional. Sebelum kedua warna tersebut dikibarkan bersama sebagai bendera resmi, corak merah dan putih telah lama dihormati oleh masyarakat Nusantara sebagai lambang kebangsaan yang melekat erat dengan kebudayaan dan nilai-nilai spiritual.
Lambang sendiri adalah bahasa visual yang lahir dari kebutuhan manusia untuk menyampaikan ilmu, gagasan, dan pemahaman yang bersifat abstrak. Melalui pancaindra, manusia menyerap realitas di sekitarnya termasuk warna, yang tidak lain merupakan kesan indrawi dari pendaran sinar matahari dan rembulan. Dari tangkapan indra itulah, gagasan yang awalnya tak berwujud diolah menjadi pemahaman yang disimpan dalam jiwa. Di sinilah letak kecerdasan luhur bangsa Indonesia yang tidak hanya mengandalkan logika, tetapi juga memadukannya dengan kepekaan rasa.
Muhammad Yamin menjelaskan keterkaitan ini dalam bukunya, 6000 Tahun Sang Merah Putih. Di tanah Indonesia, penghormatan terhadap warna merah dan putih diperkirakan telah ada sejak 6.000 tahun lalu melalui pemuliaan Sang Matahari dan Sang Rembulan. Keduanya mewakili warna merah dan putih sekaligus menjadi representasi wujud penghormatan manusia atas keagungan Tuhan Yang Maha Kuasa, serta simbol kekuatan hidup. Penghormatan ini kadang menjadi sedemikian mendalam hingga memberi dasar kepada kepercayaan yang tetap dan teratur.
Diantaranya pada ragam makanan tradisional yang dihadirkan sebagai simbol penghormatan, seperti jenang abang-putih (bubur merah-putih), Lemang Cerai Merah Putih di Pulau Flores, dan Papeda Merah Putih di Irian Barat. Warna merah dan putih juga ada pada cerita rakyat, seperti kisah Bawang Merah dan Bawang Putih. Bahkan pada relief candi, seperti Penataran dan Prambanan, penghormatan ini terekam jelas, salah satunya melalui penggambaran sosok Anoman Putih dan api.
Dalam tubuh manusia, warna merah dan putih juga hadir melalui keberadaan sel darahnya. Hal ini kemudian dihubungkan oleh M. Yamin bahwa lebih terasa perhubungan lambang antara dua perumpamaan: "selama darah masih mengalir" dan "selama Merah Putih masih berkibar", yang menyatakan keabadian hidup dan hidayah dalam batang tubuh manusia serta bangsa Indonesia.
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno