ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
15 Agustus 2026 17:00
Realisasi pengorbanan ini terlihat jelas dalam insiden penyobekan bendera di Hotel Yamato. Mengutip pandangan Syekh Mukhtar, penyobekan warna biru dilakukan karena warna tersebut melambangkan simbol kolonialisme yang mengaru biru kesucian. Aksi tersebut berbuntut pada keluarnya ultimatum militer Sekutu yang mengancam akan menggempur Surabaya dari darat, laut, dan udara apabila pihak Indonesia tidak menyerahkan senjata.
Ketegangan ini memuncak pada pertempuran 10 November 1945 yang mengakibatkan gugurnya sekitar 3.000 pejuang. Kendati menghadapi gempuran skala besar, perlawanan rakyat tetap bertahan hingga peristiwa ini mencatatkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, Sang Mujtahid wawasan kebangsaan kerap kali mengupas makna dari lambang maupun nilai-nilai kebangsaan yang ada pada Jati Diri Bangsa Indonesia. Beliau juga yang mengajarkan cara syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui cinta tanah air.
Dalam konteks Sang Merah Putih, beliau menjelaskan bahwa bendera negara melambangkan jiwa bangsa. Warna merah merupakan lambang keberanian dan putih adalah kesucian. Sama seperti keberanian dan kesucian yang meneladani para nabi dan rasul yang seluruhnya memiliki keberanian serta berpijak pada satu sumber utama agama, yaitu iman.
Lebih jelasnya, keberanian pada warna merah bukanlah keberanian karena dorongan tabiat seperti macan, bukan karena dipuji, dan bukan pula karena terdesak. Keberanian tersebut harus berdiri di atas warna putih, yaitu keberanian karena benar dan adil.
Untuk mewujudkan nilai tersebut, beliau menganalogikan bahwa kitab suci, undang-undang, maupun aturan hukum tidak memiliki "tangan dan kaki" untuk bergerak sendiri. Aturan yang sebatas diucapkan, didalilkan, atau dikampanyekan tidak akan memberikan manfaat tanpa ada manusia yang merealisasikannya menjadi fakta bicara.
Keseluruhan pemaknaan tersebut bermuara pada prinsip utama dalam menghormati bendera negara. Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menyampaikan: “Jadi kalau kita menghormati bendera negara, bukan menghormati warna merah, bukan menghormati warna putih, bukan menghormati kainnya, tapi menghormati negara di belakang bendera itu, adalah negara kesatuan Republik Indonesia.” (OPSHID Media)
--------
Referensi:
- Keterangan Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.
- Yamin, M. (2017). 6000 tahun sang merah-putih. Balai Pustaka. Cetakan ke-2.
- Adams, C. (2014). Bung Karno: Penyambung lidah rakyat Indonesia (Syamsu Hadi, Penerjemah; Edisi Revisi). Yayasan Bung Karno & Media Pressindo.
- Panglima Besar TNI Jendral Soedirman Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia (1992) Oleh Let. Jend (Purn) TNI-AD Tjokropranolo
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno