ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Iran di Ambang Keruntuhan Ekonomi, Krisis yang Ditunggangi Kepentingan Politik
18 Januari 2026 07:00

CAWE-CAWE REZIM LAMA
Di tengah situasi yang memanas di Iran, suara provokasi datang dari negeri Paman Sam—adalah Reza Pahlavi, putra dari Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran yang menjabat sebelum Revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Saat revolusi pecah, Reza baru berusia 16 tahun dan berstatus sebagai pewaris tahta dan Putra Mahkota Iran. Pada tahun 1978, ia meninggalkan Iran untuk mengikuti pelatihan jet tempur Angkatan Udara di Texas Amerika Serikat. Setelah penggulingan keluarga Kerajaan Pahlavi, mereka meninggalkan Iran pada Januari 1979 dan hidup di pengasingan selama lebih dari 40 tahun.
Pahlavi menyelesaikan pendidikan ilmu politik di Universitas Southern California, dan selama puluhan tahun aktif berkeliling dunia untuk bertemu para pemimpin negara, termasuk Israel, yang memiliki hubungan erat dengan Iran selama masa pemerintahan Pahlavi.
Pada 22 Juni 2025, Pahlavi membuat pernyataan publik yang menyalahkan aksi Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan rezimnya atas serangan Israel ke Iran dalam unggahan media sosial dan sejumlah siaran pers yang ia lakukan di luar Iran. Menurutnya, serangan itu disebabkan oleh keterlibatan Iran dalam konflik yang berkembang di Gaza dan menyerukan agar Khamenei mundur demi masa depan bangsa.
Tulis Pahlavi, “Ali Khamenei dan rezim terorisnya yang rapuh telah gagal terhadap bangsa ini… dan demi rakyat Iran, respon yang layak adalah ia mundur agar bangsa Iran dapat meninggalkan periode kehancuran rezim Republik Islam dan memulai babak baru perdamaian, kemakmuran, dan kejayaan.”
Secara garis besar, ia menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian adalah dengan mengakhiri rezim tersebut.
Begitu pula menanggapi protes yang baru-baru ini terjadi, Pahlavi telah beberapa kali mengeluarkan pernyataan publik selama gelombang protes yang meluas di Iran sejak akhir Desember 2025. Dalam pesan-pesan yang diposting di platform seperti X, ia secara eksplisit memuji keberanian demonstran, dan mendorong rakyat untuk tidak meninggalkan jalanan. Ia mengatakan kepada para pengunjuk rasa bahwa kehadiran mereka yang kuat dan berani di jalan telah “secara serius melemahkan penindasan Ali Khamenei dan rezim Iran.” Ia bahkan menyatakan, menurut laporan, bahwa banyak anggota pasukan keamanan telah meninggalkan pos mereka atau menolak perintah untuk menekan rakyat, yang menunjukkan potensi retaknya dukungan terhadap rezim saat ini.
Dalam pernyataannya pada 10 Januari 2026, Pahlavi mengajak para demonstran untuk memperluas aksi mereka dari sekadar unjuk rasa menjadi aksi yang lebih terorganisir, termasuk mengambil alih pusat-pusat kota dan ruang publik, mengajak pekerja di sektor-sektor strategis seperti transportasi, minyak, gas, dan energi untuk melakukan pemogokan nasional, mendesak agar aksi dilakukan secara terkoordinasi pada waktu-waktu tertentu (misalnya mulai pukul 18.00 di akhir pekan), dan menargetkan keterbukaan ruang publik dan simbol-simbol kedaulatan rakyat sebagai bagian dari upaya memperluas tekanan terhadap negara.
Meskipun tidak secara eksplisit menggunakan istilah “kudeta” atau “revolusi”, Pahlavi tampaknya sama sekali tidak menyembunyikan bahwa ia berusaha mengubah keseimbangan kekuatan politik Iran. Kalimat-kalimat seperti “transisi besar dari rezim yang berkuasa”, “perubahan radikal dalam struktur kekuasaan” serta komentarnya “Republik Islam dan apparatus penindasannya yang using dan rapuh akan bertekuk lutut” secara retoris hampir setara dengan gagasan revolusi. Para pendukung Pahlavi yang mengompori demonstrasi pun tak sungkan menyerukan hal-hal seperti “fall of the regime”, atau “Pahlavi will return”.
Dari sini, tentu tak bisa dipungkiri bahwa ada kecondongan besar Pahlavi memanfaatkan momentum protes ini demi terwujudnya pergeseran peta politik, dan kemunculan kembali trah Pahlavi sebagai penguasa Iran.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur