Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Iran di Ambang Keruntuhan Ekonomi, Krisis yang Ditunggangi Kepentingan Politik

18 Januari 2026 07:00

Iran di Ambang Keruntuhan Ekonomi, Krisis yang Ditunggangi Kepentingan Politik

DISTORSI NARASI DALAM MEMAHAMI PROTES IRAN

Seperti telah dijelaskan di atas, demonstrasi ini titik mulanya adalah karena krisis ekonomi. Tuntutan utama berkisar pada harga, upah, air, dan tata Kelola. Namun seiring berkembangnya narasi, mayoritas mengarah pada kesimpulan simplistis: bahwa rakyat Iran menolak pemerintahan Islam. Penyederhanaan semacam itu justri  mengaburkan akar masalah yang sebenarnya serta mereduksi persoalan struktural menjadi konflik ideologis, seolah ini adalah tentang “rakyat vs pemerintahan Islam”.

Islam sebagai kambing hitam naratif tentu lebih mudah menjadi senjata yang menguntungkan beberapa pihak tertentu. Hal ini tidak patut digunakan sebagai generalisir faktor demonstrasi di Iran. Data di lapangan menunjukkan bahwa seruan perbaikan sistem jauh lebih dominan dibandingkan dengan seruan pembongkaran sistem.

Kebijakan ekonomi dan pengelolaan sumber data adalah ranah teknokratis, bukan teologis. Krisis air, inflasi, dan sanksi internasional tidak memiliki korelasi inheren dengan ajaran Islam.

Adanya kecondongan narasi tersebut dapat dilihat dari contoh-contoh berikut:

The Washington Post dalam liputannya tentang protes Iran menyoroti bahwa demonstran menantang pemerintahan dan menampilkan pesan-pesan yang ditafsirkan sebagai tantangan ideologis terhadap rezim, termasuk penekanan bahwa protes ini merupakan ancaman terhadap keberlangsungan Republik Islam.

New York Post menonjolkan video dan foto yang menggambarkan demonstran yang melakukan tindakan simbolis ekstrem, seperti mengganti nama jalan di Teheran menjadi nama Presiden AS atau slogan “Death to Khamenei”. New York Post memberikan headline dan fokus pada aspek dramatik dan simbolik ini, yang kemudian kerap dibaca sebagai bukti upaya menggulingkan rezim secara ideologis. 

Time Magazine dalam laporan liputannya tentang solidaritas global dengan protes Iran, Time menyoroti slogan-slogan anti-pemerintah yang muncul dalam demonstrasi di luar negeri, seperti “Make Iran Great Again” dan simbol-simbol anti-Islam Republik. Penyebutan slogan seperti ini dalam konteks demonstrasi internasional sering kali diperluas menjadi narasi “keinginan rakyat untuk perubahan rezim”.

Situasi geopolitik juga kian memanas dengan adanya faktor Presiden AS yang ‘ikut campur’ masalah dalam negeri Iran. Donald Trump secara terbuka memberikan dukungan retoris kepada para pengunjuk rasa di Iran dengan mengajak mereka terus berdemonstrasi dan “mengambil alih institusi-institusi negara”. Ia mengunggah pesan ini di platform media sosialnya, Truth Social, sekaligus membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai kekerasan terhadap para pengunjuk rasa dihentikan.

Selain itu, Trump juga memperluas tekanan terhadap Teheran dengan mengumumkan rencana pemberlakukan tarif 25% terhadap setiap negara yang masih berdagang dengan Iran, sebuah langkah yang justru berpotensi memperburuk tekanan ekonomi Iran. Sementara dari sisi militer, Trump memperingatkan bahwa jika pemerintah Iran menggunakan kekuatan mematikan terhadap para pengunjuk rasa, Amerika Serikat akan mengambil tindakan “sangat kuat”, termasuk opsi militer atau serangan udara.

Sekitar 15 Januari 2026, serangan udara kepada Iran hampir-hampir akan dilancarkan oleh AS namun dibatalkan karena Turki, Qatar dan Arab Saudi tidak memberikan wilayah udara mereka kepada pasukan AS untuk menyerang wilayah Iran. Negara-negara tersebut, termasuk Oman, juga secara diplomatik mendesak AS untuk menahan diri dari operasi militer, dengan alasan bahwa serangan semacam itu bisa berdampak sangat negatif bagi stabilitas regional—termasuk risiko eskalasi konflik yang melibatkan banyak pihak.

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida