ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Falsafah Hidup Guru Bangsa H.O.S Cokro Aminoto: Setinggi-Tinggi Ilmu, Semurni-Murni Tauhid
25 November 2025 07:00
MENJADI PEMIMPIN BESAR SAREKAT ISLAM
Pada tahun 1912, Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Organisasi ini berkembang pesat, dan kehadiran HOS Cokro Aminoto memberikan energi baru. Dalam waktu singkat, ia terpilih sebagai pemimpin utama Sarekat Islam.
Baca juga jurnal Peran Sjarikat Islam DalamPerlawanan Terhadap Kolonialisme
https://www.opshidmedia.net/jurnal/298/peran-sjarikat-islam-dalam-perlawanan-terhadap-kolonialisme
Pada masa kepemimpinannya, SI berubah menjadi organisasi terbesar di Hindia Belanda. Anggotanya mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan orang di seluruh Jawa dan sebagian luar pulau Jawa.
Mengapa SI begitu besar?
Karena Cokro membawa tiga hal:
Cokro dan istrinya juga mengelola rumah kos di Jalan Peneleh, Surabaya. Rumah itu menjadi tempat tinggal banyak pemuda yang sedang belajar. Di rumah itu, mereka berdiskusi, belajar politik, membaca berbagai literatur, dan mendengarkan pemikiran Cokro secara langsung. Dari sinilah lahir generasi pemimpin bangsa.
Tantangan terbesar dalam hidupnya adalah perpecahan Sarekat Islam. Hal ini karena Belanda melihat SI sebagai ancaman serius. Karena itu Cokro dan pengikutnya :
Namun sebagai seorang pemimpin Cokro tetap teguh. Ia yakin bahwa perjuangan harus dilakukan dengan cara yang terhormat, bukan dengan kekerasan membabi buta. Dengan taktik pecah belah Belanda mampu membuat organisasi terbesar ini terkoyak. Banyak anggota SI terpengaruh ideologi kiri(komunisme), sedangkan sebagian tetap pada jalur nasionalis-Islam.
HOS Cokro memilih jalur Islam sebagai etika sosial yang mengajarkan keadilan. Dalam sikap kepemimpinannya ia tidak menyukai ekstremisme kiri maupun kanan. Dan ia tetap memegang prinsip persatuan.
Meskipun demikian, konflik itu tidak bisa dihindari. Pada akhirnya Serikat Islam terpecah menjadi 2 :
Salah satu rumus pemikirannya yang terkenal adalah :
“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”
Kalimat ini merangkum seluruh pemikiran hidupnya: pemimpin harus cerdas, memiliki hati yang bersih, dan mampu menyusun strategi dengan tepat.
Kalimat ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak pemimpin setelahnya, termasuk Sukarno.
HOS Cokro Aminoto wafat pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta. Ia meninggal dalam usia 52 tahun. Kepergiannya menjadi duka besar bagi gerakan nasional. Banyak tokoh yang menyebut bahwa bangsa Indonesia kehilangan salah satu pilar moral yang tetap dengan jati diri bangsanya. (OPSHID Media)
-----------
Bersumber :
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno