ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Falsafah Hidup Guru Bangsa H.O.S Cokro Aminoto: Setinggi-Tinggi Ilmu, Semurni-Murni Tauhid
25 November 2025 07:00

KRITIK TERHADAP SISTEM PENJAJAHAN DAN KECERDASANNYA SEJAK USIA REMAJA
Ketika beranjak remaja, Cokro semakin serius dalam belajar. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke Opleidingsschool Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) yaitu sekolah khusus bagi calon pegawai bumiputera. OSVIA adalah sekolah elit pada masa itu, dan hanya anak-anak priyayi dengan kriteria tertentu yang bisa masuk.
Di OSVIA, para siswa tidak hanya diajarkan ilmu administrasi pemerintahan, tetapi juga etika kepemimpinan, tata hukum, ekonomi, dan sistem birokrasi Barat. Pelajaran-pelajaran ini sangat mempengaruhi pola pikir Cokro.
Cokro aminoto-pun mulai memahami tentang:
Sehingga di usia remaja kesadaran mengenai politiknya telah tumbuh. Ia melihat betapa dalamnya jurang antara rakyat dan pemerintah Belanda serta sekutu. Ia menyadari bahwa sistem di Hindia Belanda dibangun agar tetap menguntungkan Eropa dan menginjak penduduk pribumi.
Di OSVIA, Cokro tidak hanya dikenal sebagai pelajar yang pintar, tetapi juga berani memberi gagasan dan kritikan. Ia sering berdiskusi dan memperdebatkan kebijakan pemerintahan Belanda dan sekutu dengan teman-temannya. Tidak sedikit gurunya yang kagum pada keberanian dan kecerdasannya.Namun keberanian itu juga membuatnya mendapat perhatian khusus, karena pemerintah Imperialis tidak menyukai siswa yang cerdas dan pemberani.
Tak seperti pemuda Bumiputera yang lain, setelah lulus ia langsung ditempatkan sebagai juru tulis di kantor asisten residen Ngawi. Ini adalah pekerjaan terhormat bagi pemuda pribumi. Gajinya lumayan, posisinya stabil, dan lingkungannya sangat nyaman bagi seorang priyayi.
Namun Cokro tidak betah karena pekerjaan juru tulis ini merupakan upaya untuk mengontrol pemikiran kritisnya. Ia melihat langsung bagaimana birokrasi imperialis bekerja yang menurutnya: lambat, penuh diskriminasi, dan sering menyengsarakan rakyat. Banyak kebijakan ditujukan untuk memudahkan pengumpulan pajak, merampas tanah, atau menekan penduduk Bumiputera.
Sifat idealisnya tidak kuat menanggung kenyataan itu. Dalam waktu relatif singkat, ia keluar dari pekerjaannya, suatu langkah yang jarang dilakukan pemuda pribumi saat itu. Keputusan ini menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai penggerak perlawanan dan pemimpin rakyat.
MEMASUKI DUNIA PERGERAKAN DAN TINGGAL DI SURABAYA
Setelah keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai Hindia Belanda, Cokro mencari jalan lain untuk mengabdi kepada bangsanya. Awalnya ia bekerja sebagai buruh pabrik gula dan kemudian pekerja di perusahaan swasta. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena bekerja sebagai pegawai atau buruh bukanlah panggilan jiwanya.
Dengan pengalamanan dan bahasa Belandanya yang baik, tidak sedikit dari pegawai pemerintahan, guru, buruh bahkan priyayi mulai menjadikan Cokro sebagai pemimpin perlawanan. Gagasan dan kritik terhadap pemerintah tak jarang membuat Belanda geram namun karena kecerdikannya tak mudah bagi Belanda untuk menangkapnya.
Karena kecerdasan dan sisi religius yang dimilikinya tak sedikit orang baik yang seusia atau di atasnya meminta pendapat, salah satunya Raden Sukeni yang merupakan ayahanda dari Sang Proklamator, Sukarno. Lebih jelasnya ada di jurnal Bung Karno Arek Kelahiran Ploso - Jombang
https://www.opshidmedia.net/jurnal/170/bung-karno-arek-kelahiran-ploso-jombang/3
Pada tahun 1905, Cokro menikah dengan Siti Suminten. Taklama kemudian, ia pindah ke Surabaya. Kota ini pada awal abadke-20 adalah pusat perdagangan, industri, dan aktivitas politikyang mulai tumbuh.
Di Surabaya, Cokro menemukan lingkungan baru: kota yang penuh interaksi budaya, tempat para pemuda mulai membicarakan nasionalisme, kebangkitan bangsa, dan masa depan Hindia Belanda.
Di kota yang kelak dikenal dengan sebutan Kota Pahalawan HOS Cokro Aminoto bertemu dengan berbagai kalangan masyarakat salah satunya para ulama’ dan pemikir Islam. Salah satu tokoh yang kelak berpengaruh adalah Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI). Dari jaringan inilah Cokro mulai terlibat dalam diskusi dan rapat kecil yang membahas masalah rakyat.
Bakat besar Cokro semakin terlihat jelas: ia memiliki kemampuan pidato yang memukau. Pidatonya jelas, tegas, mengalir, dan penuh semangat. Ia mampu menggerakkan emosi pendengar dan menanamkan kesadaran baru.
Orasinya selalu memuat tiga hal, yaitu:
Kemampuan inilah yang kelak membuatnya dijuluki “Raja Jawa Tanpa Mahkota” oleh pers Belanda.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur