Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Pecahnya Uni Soviet Dan Kenapa Itu Jadi Tanda Kebangkitan Tashawuf

26 Desember 2024 07:00

Pecahnya  Uni Soviet Dan Kenapa Itu Jadi Tanda Kebangkitan Tashawuf

MENJELANG KERUNTUHAN SOVIET

Kurang lebih 3 tahun sebelum runtuhnya Uni Soviet, Gorbachev menerima sebuah ‘peringatan’ tentang ideologi Marxisme yang dianut Soviet. Tepatnya pada 1 Januari 1989, pemimpin Agung Iran saat itu, Sayyid Ruhulloh Al Musawi Khomeini menulis surat yang ditujukan pada Gorbachev.

Umumnya, surat antar pemimpin negara pasti mengenai diplomasi maupun kerjasama antar negara. Tapi tidak dengan surat Ruhulloh Khomeini. Dalam surat tersebut, Khomeini secara garis besar menyampaikan tentang hal-hal berikut:

  • Bahwa komunisme akan mati dan tak akan bertahan lama.

“Yang Mulia Gorbachev, sudah jelas bahwa mulai sekarang komunisme hanya akan ditemukan oleh generasi mendatang di museum atau buku sejarah dunia. Karena Marxisme tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia yang sebenarnya. Marxisme adalah ideologi materialistik, dan materialisme tidak bisa mengatasi krisis umat manusia yang sejatinya disebabkan oleh kurangnya iman dalam hal spiritualitas—itulah kemalangan umat manusia baik di timur maupun barat.

Yang Mulia Gorbachev, secara teori, anda mungkin tidak mengkhianati beberapa aspek Marxisme—dan selalu menyatakan loyalitas anda pada Marxisme dalam wawancara-wawancara—tapi tahukah anda, pada praktiknya tidak seperti itu. Pemimpin China telah melayangkan pukulan pertama pada komunisme dan anda yang kedua, dan sepertinya, juga yang terakhir. Hari ini, kita sudah tidak memiliki hal-hal semacam komunisme di dunia ini”.

Dalam sepenggal bunyi surat di atas, Khomeini menyatakan bahwa komunisme telah mati, dan itu tidak lain dan tidak bukan, disebabkan oleh Gorbachev sendiri. Hal ini mengacu pada sistem politik Glasnost dan Perestroika yang ditetapkan oleh Gorbachev.

  • Bahwa Soviet meniadakan unsur Tuhan dan juga agama dari publik adalah sebuah kesalahan.

“Melihat islam sebagai pra-sosialis, Marxis melakukan dua upaya berikut: untuk menghapus Islam dan menjadikannya suatu hal asing di kehidupan masyarakat dengan terang-terangan menantangnya, atau meleburkan Islam ke dalam budaya Rusia dengan ‘me-Rusia-kan Islam’. Stalin, pemimpin komunis paling termasyhur, menyiksa para Muslim dalam jumlah besar dengan mengasingkan kelompok-kelompok Muslim ke Siberia dan juga beberapa negara kecil di Asia”.

Dalam bagian surat lain, Khomeini juga menuliskan demikian:

“Mari kita hadapi kenyataan. Masalah utama dalam negara anda bukanlah kepemilikan pribadi, kebebasan maupun ekonomi; masalah anda adalah ketiadaannya iman kepada Tuhan. Masalah inilah yang telah, atau akan menyeret dunia barat pada vulgarisme dan jalan buntu. Masalah utama anda adalah perang yang sia-sia dan tiada ujung melawan Tuhan, sumber dari segala hal di alam semesta”.

  • Tentang bahayanya pandangan materialis

“Materialis menganggap panca indera sebagai satu-satunya kriteria dalam pengetahuan, bahwa apapun yang tidak bisa ditangkap oleh panca indera maka tidak masuk dalam dunia pengetahuan. Suatu ‘keberadaan’ diidentifikasi melalui materi, dan yang tidak memiliki materi fisik tidak diakui keberadaannya. Maka mereka menganggap dunia tak terlihat—seperti Tuhan yang Maha Kuasa, wahyu ilahi, kenabian, dan kebangkitan—hanya fiksi belaka.

Di sisi lain, seorang teistik (seorang yang mempunyai iman kepada Tuhan atau mu’min—red) menganggap bahwa dunia pengetahuan adalah yang bisa ditangkap oleh panca indera dan yang memiliki tanda-tanda keberadaannya. Dengan kata lain, apapun yang bisa difahami melalui penjelasan dan ada tanda-tandanya masuk dalam dunia pengetahuan, meskipun tidak tampak oleh panca indera. Bagi seorang mu’min, keberadaan itu inklusif baik bagi yang terlihat maupun tidak terlihat, tak harus berwujud fisik. Sama seperti materi bergantung pada hal yang tak terlihat, persepsi sensorik pun bergantung pada persepsi rasional”.

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida