Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Toto: Terpaksa Tinggal Di Kandang Sapi

02 Oktober 2024 18:30

Toto: Terpaksa Tinggal Di Kandang Sapi

Jember—Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata Rumah?

Setiap keluarga pasti ingin memiliki rumah yang nyaman, tempat teduh di kala panas dan menjadi pelindung di waktu dingin. Tempat di mana bisa berkumpul dengan keluarga dan berbagi cerita tentang hari ini. Namun tak semua orang bisa merasakan kenyamanan dari yang biasa kita sebut sebagai “rumah”, seperti yang dialami Agus Purwantoko dan keluarganya.

Agus Purwantoko (62), warga Desa Puger, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Masyarakat sekitar memanggilnya Pak Toto. Bersama istrinya Karyawati, Toto mengalami berbagai cobaan untuk mendapatkan “rumah yang layak” ditempati. Setelah menikah, mereka tinggal di rumah kontrakan selama dua tahun. Namun, keadaan memaksa mereka pindah ke tempat bekas kandang sapi. “Di situ kandang sapi banyak teletongnya (kotoran sapi) saya tempati selama 3 tahun” cerita Karyawati.

“Saya pingin punya rumah sendiri”, ucap Toto menimpali istrinya.

Untuk mewujudkan rumah impiannya, Toto berhutang Rp 3.000.000 kepada juragannya. Uang itu habis hanya untuk pondasi rumah yang dibangun di tanah warisan orangtuanya. Perlahan bangunan rumah dicicil dengan uang hasil merawat ternak sapi dan kambing yang dititipkan kepadanya. Setelah menunggu lebih dari satu tahun, akhirnya keluarga Toto bisa memiliki rumah sendiri. Tak hanya rumah, mereka juga mendapat karunia buah hati, Hesti namanya.

Sejak 25 tahun yang lalu, Toto bekerja sebagai nelayan, ikut bersama adiknya yang memiliki perahu. Berangkat sekitar jam 2 siang dan baru pulang esok paginya. Hasil yang diperoleh tidak menentu, jika sedang beruntung Toto bisa membawa Rp 200.000. Seringkali hanya Rp 10.000 atau bahkan tidak sama sekali. Jika musim penghujan tiba, kegiatan sebagai nelayan libur total 4 bulan lamanya.

Lantas bagimana untuk mencukupi kebutuhan hariannya? Apalagi dengan satu putri yang masih bersekolah. Tak kehabisan akal, keluarga kecil ini memberikan jasa merawat ternak. Upah didapat ketika ternak itu beranak setidaknya dua ekor. Satu untuk Toto yang merawat, dan satu lagi menjadi milik si penitip ternak. Dari upah ini Toto membangun rumah dan mencukupi kebutuhan keluarganya ketika tidak melaut.

Karyawati juga membantu suaminya untuk mencari penghidupan sebagai buruh panggilan. Seperti pada acara besar atau hajatan ia kerap dipanggil untuk membantu kebutuhan dapur.

Dari buruh panggilan, Karyawati tidak menentukan upah. “Kadang 3 hari itu Rp300.000 atau Rp250.000 terserah yang ngasih. Kalau orang yang baik Rp400.000”. Dalam sebulan paling banyak 5 kali mendapat panggilan. Jika sedang tidak ada yang membutuhkan jasanya dan Toto tidak bisa melaut, kebutuhan sehari-hari bergantung pada uluran tangan masyarakat sekitarnya dengan berhutang.

Hutang tersebut hanya bisa dibayarkan ketika anak sapi dan kambing sudah cukup besar untuk dijual. Tak jarang, hasil jual ternak kurang untuk sekedar menutup hutang. “Orang kan harus sabar” tutur Toto untuk menenangkan dirinya dan sang istri.

Setelah 7 tahun menempati rumah yang ia bangun sendiri, perlahan rumah itu rubuh dimulai dari atap belakang. “Kata orang kurang bahan, iya, nggak ada besinya, iya. Ya kalau memang dipikir sudah waktunya segitu ya segitu. Bukan karena gejala alam. Memang sudah batasnya segitu saya tempati”, ucap Toto.

Ketika itu Toto tidak mengantongi uang yang cukup untuk biaya perbaikan rumahnya. Dengan bahan seadanya, dibangun tempat di sebelah rumahnya yang lama, bekas kandang sapi. Hanya ada atap asbes dan tiang penyangganya, tanpa dinding. Di Kecamatan Puger Kabupaten Jember daerah yang dekat dengan laut, di waktu siang pasti sangat panas, dan di malam hari angin kencang, apalagi pada musim hujan. Kurang lebih sebulan keluarganya tinggal di rumah tanpa dinding.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Sa’adatush S.