ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Toto: Terpaksa Tinggal Di Kandang Sapi
02 Oktober 2024 18:30

Sepuluh tahun berlalu, namun rumah Pak Toto tidak jauh beda dari keadaan semula. Hanya ada satu ruang beralaskan tanah dengan sekat di tengah sebagai pembatas tempat tidur dan dapur. Dinding dari anyaman bambu dengan banyak tambalan dan atap yang sudah banyak berlubang. Jika hujan datang di waktu malam, mereka menutupi diri dengan kain dan berjejer baskom disekitar untuk menampung air hujan yang masuk karena atap bocor dimana-mana, kadang sampai banjir di dalam rumah.
Hesti putri semata wayang Toto dan Karyawati yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP terkadang merasa malu dengan keadaan rumahnya. “Iki (Hesti) nek onok tamu mesti singitan”, (Ini, kalau ada tamu pasti sembunyi) tutur Karyawati.
Ujian hidup keluarga ini belum usai. Setelah Hari Raya Idul Fitri mendadak Toto jatuh sakit. “Malam tidur badan terasa tidak enak, paginya rasanya seperti kesemutan sekujur badan. Jadi pagi sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur", cerita Toto, sambil mengisyaratkan tubuhnya dari atas sampai kaki sebelah kiri.
Ketika dicek penyebabnya karena kolesterol. Keluarga dan beberapa temannya mengantar Toto untuk dipijat. Bukannya membaik, berselang sehari tubuhnya bengkak dan selama dua bulan hanya bisa berbaring di kasur. Katanya penyakit kolesterol Toto sudah menjangkit syaraf. Kini salah satu mata Toto tidak bisa dibuka dan kaki kiri menjadi kaku tidak bisa ditekuk. Untuk aktifitas sehari-hari harus menggunakan kruk/tongkat penyangga tubuh.
Dengan keadaan suami seperti ini, tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga sepenuhnya dipikul oleh Karyawati, dengan mengandalkan panggilan jasa bantuan hajatan.
SERING GAGAL MENDAPAT BANTUAN RUMAH
Berkali-kali tawaran datang untuk memperbaiki rumahnya, sebanyak itu juga tawaran itu batal. Usut punya usut, karena masalah tanah atau bangunan. Di samping itu, bantuan hanya tersedia untuk merenovasi rumah saja. Sedangkan rumah Toto tidak cukup hanya diperbaiki, harus dibangun dari awal untuk menjadi rumah yang layak. Juga tanah tempat rumah Toto sekarang bukan milik sendiri, melainkan tanah warisan yang belum dibagi dengan saudara lainnya.
Kesabaran dan do’a keluarga kecil ini akhirnya mendapat balasan. Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) dalam rangka mensyukuri hari Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, mencari keluarga yang benar-benar pantas untuk dibangunkan rumah. Dan keluarga Toto adalah salah satunya.
“Pak Ali dan bu Sri yang datang, saya kira dikasih uang. ‘Cak Toto, sampean oleh rejeki’ batin saya, alchamdullillah, bisa dibuat belanja. Tapi pak Ali bilang ini bedah rumah”, cerita Karyawati ketika didatangi OPSHID.
Mendengar kabar itu tidak langsung membuat Karyawati dan Toto percaya karena keluarganya sudah sering dikecewakan dengan kabar serupa.
Beberapa hari setelah kabar itu, datang orang mengantar bata, “Ya Alloh, temenan iki (Ya Alloh, ternyata ini benar)”, batin Karyawati.
“Alchamdulillah, buk e berarti aku ndue omah apik riyoyo” (Alchamdulillah buk Hari Raya besok rumahku bagus) ucap Hesti yang disampaikan pada ibunya.
Akhirnya Hesti dan kedua orang tuanya memiliki rumah nyaman yang menjadi impiannya selama ini. Sesuai namanya Rumah Syukur, yang dibangun untuk mentasyakuri Hari Sumpah Pemuda dan Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, juga menjadi buah syukur atas kesabaran dan ketabahan keluarga Toto. (OPSHID Media)
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan