ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiKyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 2)
· 5 menit baca · Diperbarui
Baca bagian satu disini
---------
Salah satu strategi perang Kyai Achmad Syuhada’ yaitu dengan cara menyebarkan misi-misi cinta tanah air yang erat kaitannya dengan ajaran agama Islam. Kyai Achmad Syuhada’ sejak awal memang fokus dalam hal penanaman akhlaq mulia pada diri pasukan Diponegoro agar tak mudah tertipu dengan hasutan dan iming-iming penjajahan. Selain ilmu beladiri, para kesatria Diponegoro wajiblah mempunyai dasar nilai agama Islam yang kuat. Karena penanaman dasar agama yang kuat dalam peperang, masyarakat lebih mengenal istilah perang Jihad fii Sabilillah.
Perang Jawa selain untuk mempertahankan tanah air juga mempertahankan nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan yang telah rusak semenjak kedatangan sekutu di Indonesia khusunya di Jawa. Prinsip dasar yang dibawa para ulama’ tak bisa dipisahkan dari tatanan ilmu tashawwuf yang telah mengakar kuat sejak ajaran Islam dibawa para sahabat pada abad ke 7 dan kemudian diteruskan oleh organisasi Wali Songo.
Bagi Diponegoro dan para pasukannya, perang ini merupakan perang jihad melawan Belanda dan orang-orang Jawa murtad. Sebagai seorang muslim yang sholeh, Pangeran Diponegoro merasa tidak senang terhadap religiusitas yang kendur di istana Yogyakarta akibat pengaruh masuknya Kolonial, disamping kebijakan-kebijakan pro Belanda yang dikeluarkan istana. Infiltrasi pihak Belanda di istana telah membuat Keraton Yogyakarta seperti rumah bordil. Dalam laporannya pada kerajaan Belanda, Letnan Jean Nicolaas de Thierry menggambarkan Pangeran Diponegoro mengenakan busana bergaya Arab dan serban yang didominasi warna putih. Busana tersebut juga dikenakan oleh pasukan khususnya serta dianggap lebih penting dibandingkan busana adat Jawa. Meski perang telah berakhir orang-orang yang tergabung dalam pasukan khusus masih mengenakan busana tersebut sebagai ciri khas.
- Rumah Gratis Mezzanine untuk Ghoni, Guru BTQ Mengabdi Belasan Tahun
- Syekh Mukhtar Mu’thi: Hati dan Amal, 2 Hal Utama Penilaian Alloh
- Minim Biaya, OPSHID Madura Tetap Bangun Rumah Gratis
- Jelang Hari Pahlawan, PCTA Indonesia Bangun Rumah Gratis Untuk Janda di Tuban
- Rumah Gratis untuk Sriyatun, Janda di Pati
- Rumah Syukur OPSHID Dari Masa Ke Masa: 507 Rumah Gratis, 39 Miliar Rupiah
- Penerima Rumah Gratis OPSHID Tahun 2012 Berhasil Kuliahkan Anaknya
- Dari Toko Material ke Warung, Menelusuri Jejak Ekonomi di Balik Satu Rumah Syukur
- Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan
- Tinggal di Kios Jahit, Kini Buchori Dapat Rumah Gratis