ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 2)
24 September 2023 09:00
Baca bagian satu disini
---------
Salah satu strategi perang Kyai Achmad Syuhada’ yaitu dengan cara menyebarkan misi-misi cinta tanah air yang erat kaitannya dengan ajaran agama Islam. Kyai Achmad Syuhada’ sejak awal memang fokus dalam hal penanaman akhlaq mulia pada diri pasukan Diponegoro agar tak mudah tertipu dengan hasutan dan iming-iming penjajahan. Selain ilmu beladiri, para kesatria Diponegoro wajiblah mempunyai dasar nilai agama Islam yang kuat. Karena penanaman dasar agama yang kuat dalam peperang, masyarakat lebih mengenal istilah perang Jihad fii Sabilillah.
Perang Jawa selain untuk mempertahankan tanah air juga mempertahankan nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan yang telah rusak semenjak kedatangan sekutu di Indonesia khusunya di Jawa. Prinsip dasar yang dibawa para ulama’ tak bisa dipisahkan dari tatanan ilmu tashawwuf yang telah mengakar kuat sejak ajaran Islam dibawa para sahabat pada abad ke 7 dan kemudian diteruskan oleh organisasi Wali Songo.
Bagi Diponegoro dan para pasukannya, perang ini merupakan perang jihad melawan Belanda dan orang-orang Jawa murtad. Sebagai seorang muslim yang sholeh, Pangeran Diponegoro merasa tidak senang terhadap religiusitas yang kendur di istana Yogyakarta akibat pengaruh masuknya Kolonial, disamping kebijakan-kebijakan pro Belanda yang dikeluarkan istana. Infiltrasi pihak Belanda di istana telah membuat Keraton Yogyakarta seperti rumah bordil. Dalam laporannya pada kerajaan Belanda, Letnan Jean Nicolaas de Thierry menggambarkan Pangeran Diponegoro mengenakan busana bergaya Arab dan serban yang didominasi warna putih. Busana tersebut juga dikenakan oleh pasukan khususnya serta dianggap lebih penting dibandingkan busana adat Jawa. Meski perang telah berakhir orang-orang yang tergabung dalam pasukan khusus masih mengenakan busana tersebut sebagai ciri khas.
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang
- Dari Zona 1 untuk Khususul Khusus: Ketika Satu Excavator Membawa Pesan Besar
- Bantuan Rumah Gratis di Tanggamus, Wujud Syukur Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Untuk Orang Tua Tunggal di Pati
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang