Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 2)

24 September 2023 09:00

Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 2)

Awal penyerangan pasukan Diponegoro mengalami masa keemasan, tetapi di penghujung mengalami kemunduran. Hal itu karena perbedaan pendapat antara Pangeran Diponegoro dengan pasukan elitnya yang dikenal dengan prajurit Bekel Bilik Sandi. Hal itu ditengarai karena Pangeran Diponegoro yang semakin dikenal dengan sebutan Panglima Perang Jawa merasa jumawa atas kemenangan-kemenangan yang terus diraih. Ditambah semakin banyaknya yang ingin bergabung dalam pasukan. Sehingga saudara dari kalangan keraton yang ternyata telah bekerjasama dengan Belanda mulai mempengaruhi Pangeran Diponegoro dalam strategi-strateginya. Para pasukannya yang tergabung dalam prajurit Bekel Tilik Sandi akhirnya memilih mengawasi pergerakan Pangeran dari jauh dan telah menyiapkan strategi lanjutan agar perjuangan pergerakan melawan penjajah tetap berlanjut. Siasat pecah-belah memang keahlian/senjata rahasia yang dimiliki para penjajah.

Salah seorang dari pasukan elit tersebut adalah Kyai Achmad Syuhada’ yang beberapa bulan sebelumnya telah mencium adanya kejanggalan-kejanggalan dalam strategi perang yang ada. Berawal dari datangnya mata-mata dari pihak penjajah Belanda masuk dalam pasukan, yang mengakibatkan perbedaan pendapat antara Kyai Achmad Syuhada’ dengan Pangeran Diponegoro. Dan sebelum terjadinya peristiwa penangkapan tersebut Kyai Syuhada’ sempat mewanti-wanti Diponegoro untuk tidak datang dalam jamuan tersebut namun hal itu tidak diindahkan dan memilih tetap mendatangi undangan. Hingga pada hari Ahad 28 Maret 1830 sehari setelah Hari Raya Idul Fitri, Pangeran Diponegoro datang ke Magelang memenuhi undangan Hendrik Menkus Baron de Kock, Panglima Tentara Bendara dalam Perang Jawa untuk hadir dalam jamuan di rumah residen Kedu. Disanalah Pangeran Diponegoro terperangkap dalam akal licik Belanda dengan menjebak Pangeran Diponegoro untuk berunding mengenai masalah kekuasaan.

Siasat pecah belah memang bukan hal baru dalam dunia kolonialisme. Dalam sejarah tanah air kita sudah banyak contoh peristiwa dimana siasat-siasat itu digunakan. Salah satunya  Kerajaan Mataram yang menjadi besar dalam pimpinan Sultan Agung Anyokrokusumo telah mengalami perpecahan berkat tipu daya, siasat pecah belah atau siasat perang saudara oleh Kolonial. Mataram terpecah menjadi dua kerajaan, Surakarta dan Jogjakarta. Pada tahun 1757 Surakarta dipecah lagi menjadi kerajaan Mataram Surakarta dan Mangkunegara. Sedangkan tahun 1811 kerajaan Mataram Jogjajakarta dibagi pula menjadi dua bagian kerajaan yakni Jogjakarta dan Paku Alaman.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.