Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah

11 Juli 2026 12:00

Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah

LIMA MEGAPROYEK SHIDDIQIYYAH

Diawali dengan Masjid Raya Fatchan Mubiina Chaddun Adhim (FMCA) yang mulai dibangun pada 22 Oktober 2022, bertepatan dengan Hari Santri Nasional. Pembangunan ini menjadi simbol sekaligus bukti pengingat bagaimana pesantren dan santri menjadi benteng Indonesia. Momentum ini berkaitan erat dengan peran santri dalam mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia, khususnya peristiwa perlawanan pada November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Disampaikan oleh mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi arti dari nama yang diberikan ini, Fatchan artinya kemenangan, Mubiina artinya cemerlang, Chaddun artinya jiwa, ‘Adhiima artinya besar. Dan masjid ini sebagai satu dari tanda kebangkitan tashawuf nusantara menuju imam perdamaian dunia.

Untuk memahami esensi kebangkitan tersebut, perlu diketahui bahwa tashawwuf merupakan ilmu bathin, dalam buku Tanwirul Qulub bab 5 yang menjelaskan persoalan tashawwuf, dikatakan bahwa tashawwuf adalah ilmu untuk mengetahui kedalaman jiwa manusia, jalan mensucikan jiwa dari sifat-sifat tercela, cara menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, dan cara menempuh suluk menuju Alloh. Untuk menempuh jalan ini, bimbingan seorang Mursyid mutlak diperlukan.

Sebelum dibangunnya Masjid Raya FMCA, pesantren Shiddiqiyyah tengah mengalami fitnah dari pihak-pihak yang menginginkan tenggelamnya Thoriqoh Shiddiqiyyah. Dan sebagai bukti bantahan dari fitnah tersebut, Syekh Mukhtar menyampaikan untuk membangun masjid megah dengan arsitektur bergaya Uzbekistan di atas lahan dengan luas 3000 m2

Ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah sendiri juga berkembang sangat pesat, kini lebih dari 5 juta orang terdaftar sebagai Murid Thoriqoh Shiddiqiyyah. Dan tidak hanya di Indonesia, bahkan sudah mencapai Australia, Singapura, Malaysia, Kanada, Hongkong, Amerika dan negara-negara di Eropa.

Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat dunia kini bisa menerima ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah dan membutuhkannya, apalagi di masa ketidakstabilan dunia. Khususnya jika dihubungkan dengan konflik geopolitik yang terjadi saat ini, di mana masyarakat dunia membutuhkan dasar ajaran keimanan dan kemanusiaan yang ada dalam Shiddiqiyyah. Selengkapnya baca: Ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah dan Kemenangan Nyata Bagi Dunia.

Kemudian, Perpustakaan Tashawwuf yang dirancang megah di atas lahan 180 x 90 meter. Perpustakaan ini nantinya akan berisi ribuan koleksi buku dan seratan (manuskrip) milik Sang Mujadid, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia.

Keistimewaan Perpustakaan Tashawwuf tidak hanya terletak pada besar dan banyaknya koleksi. Cetak biru gedung ini dirancang tanpa sudut kotak yang kaku, melainkan menggunakan garis-garis aerodinamis yang luwes menyerupai kelopak bunga Wijaya Kusuma, didukung dengan keberadaan taman di bagian dek atapnya, juga mengasimilasi unsur-unsur estetika peradaban Nusantara masa lalu seperti corak khas Majapahit dan Padjajaran namun dikemas dalam nuansa modern.

Selanjutnya adalah Monumen dan Gapuro Semboyan, monumen sendiri memiliki arti pengingat atau peringatan. Dalam bangunan ini, terukir Semboyan Sang Guru, Silsilah Thoriqoh Shiddiqiyyah, Delapan Kesanggupan, hingga nama-nama organisasi Shiddiqiyyah, dan dilengkapi kalimat 'Man ’Arofa Nafsahu Faqod ’Arofa Robbahu' yang berarti 'Barang siapa mengenal dirinya, sungguh ia mengenal Tuhannya'. Dibangun megah dengan mahkota delima dan struktur seperti bunga Wijaya Kusuma.

Bangunan dalam lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia memang kerap menggunakan bunga Wijayakusuma sebagai bentuk struktur maupun hiasan. Mengambil maknanya, kata Wijayakusuma berasal dari bahasa Sansekerta, yakni gabungan dari kata “wijaya” yang berarti kemenangan, dan “kusuma” yang berati bunga. Istilah ini secara harfiah diartikan sebagai “bunga kemenangan” atau simbol kejayaan yang kerap dipakai oleh raja-raja Jawa.  

Selain mendirikan bangunan ikonik, aspek vital penunjang kehidupan di dalam pesantren turut diperhatikan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih secara mandiri, pesantren juga membangun Kanal Ta’at. Saluran air sepanjang 1,7 kilometer ini nantinya akan difungsikan untuk keperluan sanitasi santri-santri di pesantren, sekaligus mengalirkan air ke kolam-kolam yang ada di area Monumen Semboyan.

Proyek besar lain berupa Gapuro Syukur yang juga menjadi pintu gerbang dari Perpustakaan Tashawwuf. Kata Gapuro berasal dari bahasa Arab “Ghofur” artinya ampunan atau pengampunan. Dan syukur merupakan nilai yang harus ada di setiap gerak langkah warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Ini merupakan simbol: apabila kita hendak masuk ke tempat yang penuh ilmu, kita harus bersyukur terlebih dahulu. Seperti Gapuro Syukur yang menjadi pintu masuk menuju Perpustakaan Tashawwuf. 

Selain itu, Gapuro Syukur juga berhubungan dengan ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah untuk menjadi Abdan Syakuro atau hamba yang bersyukur kepada Alloh dengan jalan ibadah. Hal ini termanifestasi dalam banyaknya program sosial dan dengan landasan rasa syukur kepada Alloh, sesama manusia dan tanah air. Seperti pembangunan Rumah Syukur layak huni Shiddiqiyyah dan Santunan Nasional serta santunan-santunan lain di hari besar nasional atau keagamaan.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.