ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
26 Mei 2026 07:00
Antara Ibadah Dan Tradisi
Sebagian umat Islam masih memiliki pandangan bahwa penyembelihan hewan Qurban berkahnya kelak diterima di akhirat, bisa menjadi tunggangan guna melewati Shirotol Mustaqim. Jika seekor kambing cukup untuk satu orang, jika sapi, kerbau atau onta kuat untuk membawa 6 orang. Mengenai faham ini, Shiddiqiyyah melalui petunjuk Syekh Mukhtar tidak sependapat.
Beliau menjelaskan bahwa kata Qurban berasal dari bahasa arab, qoroba artinya dekat. Menyembelih hewan qurban di Hari Raya ‘Idul Adha bukan untuk tumpangan nanti di akhirat, tapi justru tumpangan di dunia untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Untuk bisa mendekatkan diri kepada Alloh perlu menyembelih sesuatu yang dekat dengan diri yaitu nafsu hayawan.
Maka hewan yang disembelih itu disebut qurban, dinamakan hewan qurban sebagai simbol dari nafsu amarah, nafsu hayawan yang menghalang-halangi diri mendekat kepada Alloh. Nafsu mementingkan diri sendiri, ingin enak sendiri, menang sendiri, makmur sendiri, itu semuanya nafsu hayawan. Dan nafsu yang hanya mementingkan diri sendiri itu perlu dipotong tanpa itu kita tidak bisa mendekatkan diri kepada Alloh.
Karena itu, inti qurban sebenarnya bukan terletak pada darah atau daging hewan yang disembelih, melainkan pada ketaqwaan manusia itu sendiri. Alloh berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37: “Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Alloh tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaanmu”
Mengingat banyaknya tradisi di Indonesia yang telah dipengaruhi oleh ajaran Islam, seperti tradisi Grebeg Gunungan yang telah diuraikan sebelumnya, maka penting bagi masyarakat untuk memahami makna dan tujuan dari setiap ritual yang dijalankan. Pemahaman tersebut diharapkan mampu menjadikan setiap amal dan tradisi tidak sekadar seremonial yang kosong.
Terlebih lagi, di tengah banyaknya tradisi keagamaan yang hari ini dilaksanakan secara megah dan meriah, esensi ibadah serta nilai keikhlasan di dalamnya perlu tetap dijaga.
Pada akhirnya, ibadah qurban adalah media untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sekaligus hubungan antarmanusia. Dengan meneladani keikhlasan keluarga Nabi Ibrahim AS dan menyerap nilai luhur tradisi qurban Nusantara, semoga moment ini mampu membentuk karakter bangsa Indonesia yang lebih humanis, toleran, sejahtera, dan lebih baik lagi di masa depan. Selamat menunaikan ibadah Idul Adha!
Referensi:
- Mauidhotul Chasanah Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.
- Hasjmy, A. (1983). Kebudayaan Aceh dalam sejarah (Cet. 1). Beuna.
- Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. (2017). Garebeg. Hajad Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. https://www.kratonjogja.id/hajad-dalem/1-garebeg/
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau