ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
26 Mei 2026 07:00
Di Indonesia, pelaksanaan Idul 'Adha menampilkan keterkaitan erat antara ajaran agama dan kebudayaan lokal. Fenomena ini terdokumentasi dalam ragam tradisi daerah, seperti Grebeg Gunungan di Jawa dan Meugang di Aceh, di mana masyarakat Muslim memaknai ibadah qurban tidak hanya sebagai ritual kepada Tuhan, tetapi juga sebagai hubungan antarmanusia.
Jejak sejarah membuktikan, jauh sebelum agama-agama besar masuk ke Indonesia, para pendahulu telah memiliki kehidupan spiritual yang kuat. Leluhur Nusantara percaya dirinya adalah makhluq ciptaan dan ada Sang Pencipta, juga kepercayaan adanya kekuatan besar yang menciptakan alam semesta, Sang pemberi rizqi dan pertolongan.
Ketika ajaran Islam masuk ke Nusantara, proses Islamisasi terwujud secara damai berkat pendekatan para ulama sufi. Keberhasilan ini tercapai karena metode dakwah yang dibawa sangat menghargai dan adaptif terhadap struktur kepercayaan lokal yang telah ada.
Dalam perkembangannya, tradisi Idul Adha di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh ajaran tasawuf yang sejak lama menjadi corak penyebaran Islam di Indonesia. Para ulama sufi menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya dan spiritual, sehingga lahirlah berbagai tradisi keagamaan yang bersifat kolektif. Tradisi seperti takbir keliling, kenduri, hingga gotong royong penyembelihan hewan qurban menunjukkan bahwa Idul Adha di Indonesia bukan sekadar ritual individual, tetapi juga perayaan spiritual sosial yang dipengaruhi kultur sufistik masyarakat Muslim Nusantara.
Di Yogyakarta misalnya, puncak kemeriahan Idul Adha mewujud dalam tradisi Grebeg Gunungan. Menurut catatan dari website Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (2017), grebeg berarti diiringi atau diantar oleh orang banyak, dan gunungan adalah hasil bumi yang disusun seperti gunung. Menariknya, tradisi ini sempat terhenti ketika Islam masuk ke Kerajaan Demak karena akar ritualnya yang berasal dari tradisi Hindu.
Melihat hal itu, Wali Songo sebagai penasihat Raja Demak mengusulkan agar tradisi ini dihidupkan kembali, namun diselaraskan dengan ajaran Islam. Gunungan hasil bumi yang awalnya merupakan simbol persembahan, diubah esensinya menjadi simbol rasa syukur atas rizqi dari Alloh Ta’ala. Dan bentuk gunungan yang mengerucut ke atas merepresentasikan konsep Manunggaling Kawulo Gusti sekaligus hubungan makhluq dengan Sang Pencipta. Melalui akulturasi budaya yang bijaksana ini, tradisi Grebeg Gunungan berhasil diubah dari ritus lama menjadi sarana penyebaran ajaran Islam yang sangat efektif dan melekat dalam diri masyarakat.
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman