ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
26 Mei 2026 07:00
Keharmonisan serupa antara syariat Islam dan budaya lokal juga dapat ditemukan di Aceh melalui tradisi Meugang. Secara historis, praktik kebudayaan ini telah diatur dalam undang-undang kesultanan pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda (1607–1636 M). Pada masa itu, roda pemerintahan Kesultanan Aceh dipengaruhi kuat oleh para ulama sufi besar yang bertindak sebagai penasihat istana, salah satunya adalah Syekh Syamsuddin al-Sumatrani.
Atas dasar bimbingan dari ulama’, Sultan Iskandar Muda melembagakan tradisi Meugang ke dalam hukum kerajaan. Perayaan ini diabsahkan oleh pihak istana agar kemeriahan hari besar Islam tidak hanya dinikmati oleh kaum elite, melainkan menjadi ruang sosial di mana kaum dhuafa dan anak yatim bisa merasakan kebahagiaan yang setara.
Pada momentum tersebut, Sultan memerintahkan Balai Fakir, lembaga resmi kesultanan yang menaungi kelompok rentan, untuk membagikan daging, pakaian, dan beras kepada fakir miskin, penyandang disabilitas, serta para janda. Seluruh pembiayaan agenda ini ditanggung sepenuhnya oleh Balai Shillaturrochmi, sebuah kementerian khusus yang menangani hubungan kesejahteraan antara negara dan rakyat Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.
Latar Idul Qurban
Dalam ajaran Islam, pelaksanaan ibadah qurban ketika Idul Adha secara historis diturunkan dari kisah Nabi Ibrohim AS yang bersedia mengorbankan putranya; Nabi Ismail AS, sebagai bentuk keta'atan mutlak kepada Alloh Ta'ala. Peristiwa teologis ini diabadikan di dalam Al Qur-an Surah Ash Shoffat ayat 102.
Di dalam ayat tersebut dikisahkan bahwa ketika Nabi Ibrohim AS menyampaikan wahyu mengenai perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya. Nabi Ismail AS merespon dengan keikhlasan dan meminta sang ayah untuk segera menjalankan perintah.
Dikisahkan oleh mursyid Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarrullohil Mujtabaa Mu’thi mengenai latar belakang peristiwa tersebut, “Ismail tak memiliki dosa terhadap bapak ibunya, tidak pernah ada dosa pada masyarakat, tidak pernah berbuat maksiat. Bersih, tulus dan bakti. Apa mungkin Nabi Ibrohim diperintah membunuh, diperintah membuat dosa segitu besarnya (dengan menyembelih Ismail)? Memang kalimatnya berbunyi: Ad-bahuka fandzur maadzaa taroo. Tapi jangan terjebak oleh kalimat-kalimat saja, jangan sampai keliru. Sebenarnya tidak diperintah membunuh Ismail. Harus dilihat latar belakangnya.”
Nabi Ibrohim baru mempunyai keturunan ketika usianya 100 tahun. Sehingga bagaimana cintanya orang tua mendapatkan anak dengan akhlaq yang bagus dan ta’at. Namun dari peristiwa Nabi Ibrohim dan Ismail menjadi contoh, jangan sampai cinta kepada anak melebihi cinta kepada Alloh. Potonglah cinta berlebihan yang menjadi maksud, bukan diperintah membunuh Ismail.
Dari kisah ini, qurban dalam ajaran Islam merupakan ibadah simbolis. Dalam perspektif Tashawuf, makna qurban bahkan melampaui ritual fisik. Imam al-Ghozali memandang qurban sebagai simbol penyembelihan hawa nafsu dan sifat hayawan dalam diri manusia. Keserakahan, ego, cinta berlebihan terhadap dunia, dan keinginan untuk dipuji merupakan penyakit hati yang seharusnya turut dikorbankan. Karena itu, qurban tidak hanya dimaknai sebagai ibadah lahiriah, tetapi juga latihan spiritual untuk membersihkan jiwa.
Dalam konteks Idul Adha, penyembelihan hewan seharusnya berjalan beriringan dengan usaha manusia menyembelih ego dan kesombongannya sendiri. Sebab sering kali, yang paling sulit dikorbankan bukanlah harta untuk membeli hewan qurban, melainkan rasa ingin dipuji, dihormati, dan dianggap lebih mulia dibanding orang lain.
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman