Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Ketahanan Pangan, Inisiatif OPSHID Mewujudkan Kedaulatan Bangsa di Tengah Ancaman Krisis Global

01 Mei 2025 18:30

Ketahanan Pangan, Inisiatif OPSHID Mewujudkan Kedaulatan Bangsa di Tengah Ancaman Krisis Global

Stabilitas ekonomi tentu bukan lagi sekadar pilihan, tapi menjadi suatu kewajiban. Sektor pangan adalah sektor yang wajib diperkuat demi kemakmuran rakyat suatu negara. Dan kini di tengah dunia di mana konflik geopolitik makin memanas, ekonomipun kian menurun. Akibatnya, daya beli menurun sementara harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Dengan begini, krisis pangan akan terlihat lebih nyata dan bukan lagi bayangan jauh di masa depan.

Di Jepang misalnya, pemerintahannya melepaskan 210.000 ton beras dari cadangan darurat satu juta ton akibat lonjakan harga ekstrem. Di Asia Tenggara sendiri, Filipina telah menetapkan status darurat ketahanan pangan sejak awal Februari 2025 setelah inflasi beras mencapai 24,4%—angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Selain itu di Malaysia, kelangkaan beras lokal memicu kepanikan di masyarakat. Pasokan yang menipis menyebabkan lonjakan harga, sementara harga beras impor yang lebih tinggi semakin membebani rakyat. Hal-hal tersebut bukan tidak mungkin akan dialami oleh negeri kita juga.

Indonesia kini tengah berada dalam posisi rawan. Harga pangan melonjak, sementara penghasilan mayoritas rakyat realtif stagnan. Data dari berbagai wilayah menunjukkan tren kemiskinan baru yang muncul bukan karena pengangguran, tapi karena ketidakseimbangan antara kebutuhan dasar dan kemampuan untuk memenuhinya. Di tengah kondisi ini, OPSHID (Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah) mengambil langkah konkret dengan meluncurkan Program Ketahanan Pangan.

Langkah ini bukan respons spontan, melainkan bagian dari pandangan strategis dan visioner jangka panjang yang telah diprediksi sejak lama oleh Dewan Pimpinan Pusat OPSHID. Sebagaimana dijelaskan oleh Bapak Mulyono dari sekretariat DPP OPSHID, menurut Mulyono alasan dasar dari program ini tidak hanya soal pangan, tapi soal kedaulatan bangsa secara keseluruhan.

“Selama ini produksi pertanian nasional kita belum pernah benar-benar mampu mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia. Banyak produk pangan yang tersedia di pasar adalah hasil impor. Ini berdampak pada lemahnya mata uang rupiah dan memperkuat dominasi dolar AS. Ketergantungan ini membuat kita rentan terhadap fluktuasi dan krisis global”.

Tak hanya itu, lanjut Mulyono, situasi geopolitik dunia yang mengarah pada kemungkinan perang dunia ketiga menambah urgensi untuk bertindak cepat.

“Perang Rusia-Ukraina lalu membuat dunia terbelah dua. Meskipun hanya dua negara yang bertikai secara langsung, dampaknya menjalar ke seluruh dunia—termasuk Indonesia—melalui lonjakan harga BBM, inflasi, hingga kelangkaan bahan pangan”.

Bayangan perang dunia bukan hanya soal konflik militer, tapi soal dampak ekologis dan pangan. Di dunia yang negaranya saling berperang, penduduk sipil adalah yang paling rentan menjadi korban. Akibat perang, pertanian dan juga distribusi pangan akan terganggu. Belum lagi jika senjata nuklir digunakan, radiasinya bisa merusak tanah, air, dan udara, sehingga tanaman tidak lagi bisa tumbuh normal dan manusia akan kesulitan memperoleh makanan sehat.

“Maka dari itu, langkah antisipatif harus dilakukan dari sekarang. OPSHID memilih jalan budidaya. Minimal, kita bisa memenuhi kebutuhan dasar pangan kita dari hasil kerja dan tanah kita sendiri”. 

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.