ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Takhtim ke-42 THGB: Tradisi Pendidikan dalam Menyambut Romadlon
15 Februari 2026 23:57
Menjelang datangnya bulan suci Romadlon, Tarbiyyah Hifdhul Ghulam wal Banat (THGB) kembali menggelar Takhtim ke-42 pada Sabtu, 14 Februari 2026. Takhtim merupakan acara penutupan sementara kegiatan belajar mengajar sebelum memasuki masa libur panjang. Tahun ini menjadi momentum istimewa, yang menandai perjalanan lebih dari empat dekade sejak THGB berdiri pada 12 Robi’ul Awwal 1406 H atau tahun 1985 M.
Sejak awal berdirinya, Takhtim bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan THGB, sebuah ruang belajar yang tumbuh, bergerak, dan hidup.
Sejak Takhtim pertama hingga kini, panggung selalu dihidupkan oleh kreativitas para murid sendiri. Pada Takhtim ke-42, semangat itu kembali tampak melalui beragam penampilan tari Remo dan ludruk yang mengangkat budaya Nusantara, musik gambus dan banjari yang sarat nuansa religius, tari sufi, hingga penampilan murid-murid TK yang menampilkan berbagai cita-cita profesi. Seluruhnya tersusun rapi dan penuh makna.
Penampilan anak-anak TK tentang berbagai profesi membawa pesan, bahwa jalan hidup apa pun kelak boleh dipilih, asalkan dijalani sebagai abdan syakuro, hamba yang bersyukur. Sebab dengan rasa syukur, profesi apa pun yang digeluti akan menghadirkan kemanfaatan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan bangsa.
Di balik kemegahan panggung, terdapat proses panjang yang sarat nilai pendidikan. “Persiapannya dua bulan,” ungkap Tsima, murid tingkat 11 yang dipercaya menjadi ketua panitia pelaksana. Dalam rentang waktu tersebut, para murid tidak hanya berlatih tampil, tetapi juga merancang konsep acara, membentuk kepanitiaan, menyusun pembagian tugas, mengatur teknis panggung, hingga bekerja sama menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dikelola oleh para murid dengan bimbingan guru. Melalui proses tersebut, mereka memperoleh pengalaman dalam mengelola kegiatan, menjalankan tanggung jawab, dan melatih leadership. Sehingga Takhtim menjadi media pendidikan yang nyata, pembelajaran yang tidak berhenti pada teori, melainkan dihayati dan dialami secara langsung dalam praktik kehidupan.
Sayyidusy Syuhuur
Nurhadi, salah satu pengurus THGB, menjelaskan bahwa tradisi menghentikan kegiatan menjelang Romadlon telah berlangsung sejak awal berdirinya lembaga ini.
“Kita akan menghadapi Sayyidusy Syuhuur, rajanya bulan,” tuturnya. Karena itu, seluruh kegiatan sekolah dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan sekaligus persiapan menyambut bulan mulia. Libur panjang ini berlangsung lebih dari 40 hari hingga Hari Raya Idul Fitri.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur