ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Takhtim ke-42 THGB: Tradisi Pendidikan dalam Menyambut Romadlon
15 Februari 2026 23:57
Setiap anak lahir membawa fitrah, yakni modal dasar kemanusiaan yang berisi benih-benih kebaikan: iman, takwa, syukur, tauhid, tawakal, rasa malu (haya’), dan akal. Semua manusia, tanpa memandang latar belakang agama, memiliki benih fitrah tersebut.
Tugas pendidikan adalah menjaga dan menyuburkan benih-benih itu agar tumbuh menjadi amal sholeh. Anak-anak ibarat tanah yang mengandung potensi kehidupan. Jika dirawat dengan baik, ia akan menumbuhkan tanaman yang bermanfaat. Namun jika diabaikan, bisa tumbuh hal-hal yang bertentangan dengan kemuliaan manusia. Karena itulah pendidikan hadir untuk menjaga fitrah agar tidak rusak, bahkan berkembang menjadi karakter mulia.
Pokok pendidikan THGB adalah menjaga kemuliaan manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Alloh. Manusia diberi kedudukan tinggi, dibekali akal dan kesadaran. Dunia bahkan telah disiapkan Alloh jauh sebelum manusia hadir, lengkap dengan segala sarana kehidupan. Maka nikmat terbesar adalah dijadikan sebagai manusia.
Tujuan akhir pendidikan di THGB adalah melahirkan manusia 'abdan syakuro yang menerima ridho Allah. Jika Allah meridhoi, maka profesi apa pun akan membawa kemanfaatan.
Jika menjadi petani, maka menjadi petani yang abdan syakuro.
Jika menjadi guru, maka menjadi guru yang abdan syakuro.
Jika menjadi ilmuwan, maka menjadi ilmuwan yang abdan syakuro.
Jika menjadi aparat, maka menjadi aparat yang abdan syakuro.
Jika menjadi pendidik, maka menjadi pendidik yang abdan syakuro.
Semua profesi menjadi jalan ibadah ketika dijalani dengan syukur dan tanggung jawab.
Cita-cita ini selaras dengan tujuan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejalan pula dengan tujuan pendidikan nasional yang menekankan pembentukan manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Penutupan Takhtim ke-42 berlangsung agung dan meriah. Namun lebih dari sekadar perayaan, Takhtim adalah tentang proses, tentang pembentukan karakter, dan persiapan ruchani menyambut bulan yang mulia.
Takhtim bukanlah akhir dari kegiatan, melainkan jeda penuh makna. Sebuah persiapan agar ketika Romadlon tiba, seluruh jiwa telah siap menyambut limpahan kebaikan.
Sebab pada akhirnya, kegembiraan sejati bukan hanya pada meriahnya panggung, melainkan pada lahirnya generasi abdan syakuro, hamba yang bersyukur, yang menjadi kebahagiaan Rasulullah dan membawa kemuliaan bagi umat manusia. (OPSHID MEDIA)
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur