ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Generasi Cinta Tanah Air, Kekayaan Terbesar Bangsa Indonesia
05 September 2025 09:00
PENDIDIKAN CINTA TANAH AIR DALAM TARBIYYAH HIFDHUL GHULAM WAL BANAT
Di sini akan diambil satu contoh, pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kebangsaan yang ada di Indonesia.
Di Jombang, berdiri sebuah lembaga pendidikan bernama Tarbiyyah Hifdhul Ghulam wal Banat (THGB). Pusatnya berada di lingkungan Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, dan pada hari di mana tulisan ini diterbitkan (12 R.Awwal 1447 H) THGB telah memasuki usia 41 tahun.
Seperti kebanyakan pesantren, fondasi utama pendidikannya bertumpu pada keagamaan. Namun, THGB tak berhenti di sana. Para santri tidak hanya diajak mendalami ilmu-ilmu agama, tetapi juga dibekali dengan wawasan kebangsaan. Dua hal yang kerap dipisahkan dalam praktik pendidikan, justru dirangkai harmonis di sini.
Sebelum dimulainya proses belajar, semua santri diwajibkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya 3 stanza dan membaca Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 secara bersama-sama. Bagi THGB, hal ini bukan hanya persoalan formalitas, karena banyak nilai-nilai luhur yang terangkum dalam dua simbol kebangsaan tersebut. Dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya merangkum do’a dan harapan sebuah bangsa, sehingga harus dinyanyikan lengkap 3 stanza. Tidak seperti kebanyakan acara formal, maupun di sekolah-sekolah yang hanya menyanyikan satu stanza.
Dalam sebuah kunjungan ke Museum Sumpah Pemuda tahun 2024, seorang murid THGB melontarkan pertanyaan sederhana namun tajam: mengapa Indonesia Raya hanya dinyanyikan satu stanza? Pihak museum menjawab, alasan utamanya soal teknis. Jika tiga stanza penuh dilantunkan, akan memakan waktu lebih lama, dan orang-orang mesti berdiri lebih lama pula.
Bagi santri itu, jawaban tersebut terdengar janggal. Bagaimana mungkin soal durasi dijadikan alasan untuk memangkas penghormatan terhadap lagu kebangsaan? Di lingkungan THGB, pandangan semacam itu tidak masuk akal.
Keharusan untuk berdiri ketika menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya adalah simbol dari menegakkan dan menghormati. Yang harus ditegakkan adalah makna-makna, nilai-nilai yang terkandung di dalam Lagu Kebangsaan Indonesia dan menghormati nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Sebab, jika tidak menegakkan mungkin merobohkan, kalau tidak menghormati mungkin dihinakan, dilecehkan. Dan inilah yang diajarkan di THGB, yang sejak dini dididik untuk menghormati nilai-nilai yang terkandung di dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Persoalan lebih lengkap dari lagu kebangsaan Indonesia Raya dapat dibaca: Hidup Mati Wage Soepratman Hanya Untuk Indonesia Raya.
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang
- Dari Zona 1 untuk Khususul Khusus: Ketika Satu Excavator Membawa Pesan Besar
- Bantuan Rumah Gratis di Tanggamus, Wujud Syukur Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Untuk Orang Tua Tunggal di Pati
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang