Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Generasi Cinta Tanah Air, Kekayaan Terbesar Bangsa Indonesia

05 September 2025 09:00

Generasi Cinta Tanah Air, Kekayaan Terbesar Bangsa Indonesia


Murid-murid THGB juga terlibat langsung dalam program sosial kemanusiaan, di antaranya pembangunan rumah gratis yang di inisiasi oleh Thoriqoh Shiddiqiyah, yang disebut sebagai Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah. Meski masih dalam ruang belajar, mereka diajak untuk memperhatikan dan menghormati saudara sebangsa yang sedang membutuhkan uluran tangan, diajak untuk terjun langsung dalam masyarakat. Tujuannya, agar tumbuh rasa kepedulian terhadap tanah airnya dan tumbuh rasa memiliki, sehingga akan turut menjaga dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Lebih lengkapnya dapat dilihat juga dalam: Santri Lulusan THGB Dididik Dari Berbagai Aspek Untuk Terjun ke Masyarakat Luas.

Sejak berdirinya pada tahun 1985, THGB menggunakan materi pembelajaran yang disusun langsung oleh seorang mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, dengan dua pokok persoalan, yakni keimanan dan kemanusiaan. Tujuannya pun jelas, untuk mendidik para santrinya agar menjadi abdan syakuro (hamba yang bersyukur-red), syukur kepada tuhannya, kepada sesama manusia, dan kepada tanah air Indonesia.

Dalam ajaran agama Islam, persoalan syukur berada pada tingkat yang tinggi. Sebab dengan itu, segala apa yang ada pada diri orang yang bersyukur, baik itu jabatan, materi, ataupun keahlian, pastilah akan digunakan untuk kemanfaatan.

Dan dengan digabungkan pendidikan iman dan cinta tanah air atau kebangsaan, kemanusiaan dapat maju secara adil dan beradab karena manunggal dengan keimanan. Tanpa adanya menunggal keimanan dan kemanusiaan tidak pernah ada adil dan beradab, Jika kemanusiaan ini maju, semua kemajuan ini akan menjadi surgawi bagi manusia itu sendiri. Tapi jika tidak maunggal, kemanusiaan akan digunakan sebagai kedzoliman dan kebiadaban. Contohnya senjata modern yang diciptakan untuk memusnahkan manusia itu sendiri, ini jika kemanusiaan tidak manunggal dengan keimanan.

Dan yang memanungalkan itu cinta. Pertahanan negara yang kuat adalah cinta, cinta tanah air Indonesia, cinta kepada negara, cinta kepada bangsa. Karena cinta kepada Indonesia akan timbul keperdulian kepada Indonesia.  

Cinta tanah air disini bukan dimaknai sebagai nasionalisme ataupun patriotisme. Soekarno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi, jilid satu terdapat ungkapan demikian: “Nasionalis yang sedjati, jang nasionalismenya itu bukan timbul semata-mata suatu copie atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan.”

Putra-putri bangsa adalah cermin masa depan Indonesia. Sehingga perlu ditopang dengan fondasi kecintaan pada tanah air, agar lahir generasi yang kokoh, bukan generasi rapuh yang mudah diombang-ambingkan arus zaman. Generasi yang peduli pada bangsanya, bukan yang sekadar menjadi penonton. Tanpa rasa kebangsaan, generasi muda mudah terombang-ambing, bahkan rentan dimanfaatkan kepentingan luar. Karena itu, penanaman jati diri dan fondasi yang kokoh menjadi keharusan. Sebab Indonesia esok hari, ada di tangan mereka hari ini. (OPSHID Media)

Referensi:

  1. Pitutur luhur Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi
  2. Adams, C. (1966). Bung Karno: Penyambung lidah rakyat Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.
  3. Soekarno. (1964). Di bawah bendera revolusi: Jilid I. Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Sa’adatush S.