ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Generasi Cinta Tanah Air, Kekayaan Terbesar Bangsa Indonesia
05 September 2025 09:00
Indonesia kerap digambarkan sebagai tanah surga. Kekayaan alamnya melimpah, tanahnya subur, lautnya luas, dan masyarakatnya hidup dalam keberagaman budaya. Tidak heran sejak berabad-abad lalu bangsa asing terpikat, dari pedagang rempah, kaum imperialis, hingga investor medern. Namun, bagaimana jika bangsa Indonesia sendiri abai, dan tidak cinta pada tanah airnya?
Sebab kekayaan terbesar suatu bangsa tidak terletak pada kekayaan alamnya, melainkan generasi yang memiliki rasa cinta terhadap tanah airnya. Dengan itu, Indonesia akan menjadi tempat yang digambarkan dalam istilah pewayangan Negara panjang punjung wukir pasir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, tebih saking laku cudro, rumagang ing gawe, seiyek saikapraya. Sebuah gambaran negeri yang indah, makmur, tentram, dan kaya.
Menyimak rentetan peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi, semakin memperlihatkan betapa kompleks tantangan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia. Konflik sosial kerap muncul berawal dari rasa ketidakadilan, sementara fitroh manusia pada hakikatnya menolak segala bentuk penindasan dan penjajahan.
Namun, kenyataan hari ini kerap jauh dari bayangan indah itu. Pertanyaan besar pun muncul, apa yang membuat Indonesia menjadi seperti sekarang ini, dan apa sesungguhnya yang dibutuhkan Indonesia?
PENDIDIKAN BAGI SEBUAH BANGSA
Dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat terdapat penyataan demikian, “Pendidikan adalah alat revolusi. Dengan pendidikan, kita bisa mencetak manusia baru, manusia Indonesia yang merdeka lahir batin.” Sebagaimana diketahui, telah banyak lembaga pendidikan yang didirikan di Indonesia, baik yang bersistem keagamaan, maupun pendidikan umum. Maka seharusnya, dengan itu semua, Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari segala bentuk sifat-sifat penjajahan, baik yang ada dalam dirinya maupun intervensi dari luar. Namun, realita berkata lain, masyarakat masih mudah digiring opininya, praktik korupsi pun terus terjadi, dari yang kecil hingga yang besar.
Yang menjadi pertanyaan, apakah pendidikan yang sudah ada meninggalkan atsar (bekas) dalam kehidupan berbangsa?
Di sinilah letak pentingnya pendidikan. Pendidikan yang membentuk manusia merdeka, bukan manusia yang hanya pintar membaca dan menulis, tetapi manusia yang sadar akan harga dirinya sebagai bangsa. Dan sekolah-sekolah haruslah menjadi tempat menanamkan semangat kebangsaan, tempat menumbuhkan keberanian untuk berkata: inilah aku, bangsa Indonesia.
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak