ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Neo Imperialisme dan Kajian Historis Politik atas Ambtelijke Adviezen Snouck Hurgronje
03 Desember 2025 17:00
Artikel ini merupakan lanjutan dari: Snouck Hurgronje dan Usaha Kalangan Imperialis Untuk Melemahkan Tashowwuf di Indonesia.
Selama tujuh belas tahun, seorang misionaris-orientalis bernama Christiaan Snouck Hurgronje menjalankan misinya di Indonesia dengan penyamaran yang nyaris sempurna. Gagasan-gagasannya banyak dijadikan rujukan oleh bangsa imperialis, dan secara sadar maupun tidak, bangsa Indonesia pun turut menjadikannya acuan.
Kedatangannya di Indonesia pada tahun 1889 seolah membuka babak baru bagi neo-imperialisme, penjajahan tak lagi dilakukan dengan senjata, melainkan lewat cara-cara yang lebih halus dan samar.
Dimulai dengan upaya melemahkan pengaruh ajaran Islam yang menjadi fondasi spiritual dalam perlawanan rakyat, Snouck merancang berbagai strategi seperti mengawasi kaum thoriqoh, pembentukan ordinasi guru, serta pengangkatan mufti dan penghulu. Ini hanya sebagian kecil dari gagasan besar yang ia susun untuk merusak tatanan pemerintahan dan keagamaan di Indonesia.
Pemikiran Snouck turut dipengaruhi oleh kakeknya, Jan Scharp, seorang penginjil fanatik yang meninggalkan jejak kuat dalam pandangannya terhadap ajaran Timur. Sebelum berangkat ke Hindia Belanda, Snouck sempat mengunjungi Mekkah dengan misi mencari kelemahan-kelemahan umat Islam yang kelak dapat dimanfaatkan demi kepentingan kolonial.
Mempelajari adat istiadat, kebiasaan, dan kepercayaan bangsa-bangsa jajahan merupakan di antara trik utama yang digunakan Snouck. Dalam misinya ini, dia tidak bekerja sendirian dan justru mendapat bantuan dari sejumlah tokoh pribumi diantaranya, Raden Hadji Aboe Bakar Djadjadiningrat (dari Pandeglang), Raden Hadji Hasan Moestapha (dari Garoet), dan Said Oethman (Utsman bin Yahya) ulama keturunan Haramaut di Batavia.
Dalam misinya menyusup ke Mekkah, Snouck dibantu oleh Hadji Abue Bakar Djadjadiningrat, seorang priyayi asal Pandeglang yang telah lama menetap di kota suci tersebut. Melalui jejaringnya, Abue Bakar memperkenalkan Snouck kepada lingkungan ulama dan pelajar, serta memberinya informasi penting tentang komunitas Indonesia di Mekkah.
Ketika Snouck tiba di Hindia Timur pada tahun 1889, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah mengusulkan kepada pemerintah Belanda agar Said Oethman menjadi asisten dan informannya.
Utsman bin Yahya dikenal sebagai Mufti Agung Batavia dan ulama terkemuka yang karyanya dipelajari hingga ke luar Indonesia. Namun, di balik reputasi keilmuannya, ia juga menjadi sosok yang kontroversial. Pada tahun 1898, dalam rangka perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina, dia menyusun doa dalam bahasa Arab yang berisi permohonan agar Ratu diberi kesejahteraan, umur panjang, kesehatan, dan kejayaan dalam pemerintahannya. Doa ini kemudian dibacakan secara luas di berbagai acara resmi di Jawa dan Madura.
Dia juga menjadi penasihat pemerintah Belanda Honorair Adviseur voor Arabische Zaken (penasihat kehormatan untuk urusan Arab) yang menjadi media dalam menentukan keputusan hukum atas persoalan keagamaan umat Islam di wilayah kolonialisasi.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur