ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Neo Imperialisme dan Kajian Historis Politik atas Ambtelijke Adviezen Snouck Hurgronje
03 Desember 2025 17:00
SNOUCK HURGRONJE DAN ISLAM POLITIK
Saran-saran Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda dibukukan dengan judul Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje (saran-saran resmi). Dari pembukuan inilah, istilah “Islam Politik” mulai dipakai. Dalam buku tersebut, pandangan Snouck terhadap Islam dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Dalam hal keagamaan pemerintah wajib memberikan kebebasan yang seluas-luasnya dan seadil-adilnya.
- Dalam urusan muamalah, lembaga-lembaga yang ada harus dihormati.
- Dalam masalah yang berkaitan dengan politik, pemerintah harus menolak dan memerangi Pan-Islamisme dan gerakan lain yang berorientasi serupa karena inilah yang berpotensi membahayakan stabilitas kolonial.
Pada bulan Maret tahun 1891 Snouck menduduki jabatan resmi sebagai adviser for Oriental Languages and Islamic Law, dan pada tahun 1898 gelarnya diubah menjadi adviser for Indigenous Affairs (Penasihat untuk urusan pribumi). Untuk memaksimalkan pengaruhnya, ia mendorong para priyayi muda menempuh pendidikan di sekolah Barat. Di antaranya terdapat Achmad Djajadiningrat, Koesoemo Oetoyo, dan Moeharam Wiranatakoesoema, yang kelak menempati posisi-posisi penting. Jabatan Adviser for Indigenous Affairs yang diembannya tentu memberikan keuntungan besar bagi pemerintahan kolonial dalam mengendalikan kebijakan terhadap kaum pribumi.
Dalam hal ibadah Haji, kebijakan kolonial yang sebelumnya berupaya membatasi keberangkatan ibadah haji akhirnya dikoreksi oleh Snouck. Dia menyadari bahwa, sekalipun dibatasi, umat Muslim akan selalu menemukan cara untuk menunaikan haji. Karena itu, Snouck mengusulkan pendekatan lain, yakni dengan mengangkat penghulu serta menempatkan seorang wakil di Mekah untuk mengawasi jamaah haji asal Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda dengan cermat mencatat kegiatan Haji untuk memperkirakan pola potensial yang mengancam birokrasi. Faktanya, sepulang dari ibadah haji, banyak di antara mereka justru muncul sebagai pemimpin perlawanan terhadap pemerintahan penjajah. Dalam perjalanan melintasi Samudra Hindia, orang Indonesia bertemu dengan muslim dari berbagai latar belakang dan secara alami terpapar pada berbagai perspektif, gagasan, serta sejarah baru.
Setibanya di Hijaz, mereka dikelilingi oleh Muslim dari seluruh dunia, termasuk yang hidup bebas dari penjajahan maupun yang tengah terlibat dalam gerakan anti-kolonial di tanah airnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran para pemimpin Belanda, karena mereka takut penduduk Hindia Belanda akan menyerap dan membawa pulang ideologi-ideologi yang dianggap berbahaya tersebut, termasuk ajaran Thoriqoh.
Untuk meredam pengaruh Thoriqoh dan perkembangannya terutama di Banten, yang kala itu banyak penganut Thoriqoh Naqsabandiyyah yang dipimpin oleh Syekh Abdul Karim Al-Bantani dan Syekh Arsyad Thawil Al-Bantani, Utsman bin Yahya menulis Manhaj al-Istiqomah fi ad-Dīn bi al-Salāmah, pada halaman 22 terdapat pernyataan demikian:
“Bahwa perbuatan bikin rusuh negeri sebagaimana yang telah terjadi di Cilegon Banten dan yang dahulu di Bekasi sekalian itu batil bukannya jihad sebab tiada syarat-syaratnya malahan perbuatan begitu rupa melanggar agama dengan menjatuhkan beberapa banyak ghurur pada orang-orang”.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa Utsman menolak keras penggunaan tarekat dan jihad sebagai dalih perlawanan politik dan menyebutnya sebagai ghurūr, yaitu kesalahan persepsi yang membahayakan.
Pada waktu itu kaum Thoriqooh Naqsabandiyyah banyak menentang kebijakan pemerintah penjajah. Kritisnya, pada peristiwa tahun 1885 di Cianjur, Tarekat Naqsyabandiyah berkembang pesat, dan pemerintah Hindia Belanda merasa khawatir karena keberadaannya dianggap berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban. Fatwa tersebut kemudian digunakan sebagai dasar oleh pemerintah penjajah untuk memecat penghulu besar Sukabumi dan Cianjur yang terlibat dalam Tarekat Naqsabandiyah.
Kerjasama antara Utsman dan Snouck dimulai sejak Snouck masih berada di Leiden dan dilanjutkan setelah ia tiba di Batavia. Selain itu, fatwa dan tulisan-tulisan Utsman, khususnya Manhaj al-Istiqamah, disambut positif oleh Snouck karena dinilai efektif dalam meredam pengaruh tarekat di Banten.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur