Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Neo Imperialisme dan Kajian Historis Politik atas Ambtelijke Adviezen Snouck Hurgronje

03 Desember 2025 17:00

Neo Imperialisme dan Kajian Historis Politik atas Ambtelijke Adviezen Snouck Hurgronje

MELAWAN PROPAGANDA DZOLIM

Berkaca pada peristiwa bagaimana para misionaris-orientalis melakukan propaganda di Indonesia, maka dapat dilihat bahwa praktik dzolim tersebut tidak sebatas penjajahan fisik, melainkan sampai pada pola fikir dan mental untuk mematikan kesadaran bangsa, menumpulkan fikirannya, dan menjauhkan dari jati dirinya sebagai bangsa yang besar, bangsa yang beriman pada Tuhan Yang Maha Esa.

Bangsa Eropa dalam waktu yang lama menyebut bangsa Indonesia sebagai bangsa Inlander. Secara bahasa, inlander berarti penduduk pribumi, namun sebab sebutan ini dibuat oleh orang Belanda maka dimaknai sebagai kata negatif untuk menyebut sebuah bangsa dengan maksud memberikan label kurang baik. Belanda sering menyejajarkan kata inlander dengan sifat-sifat buruk seperti pemalas, bodoh, dan suka menimbulkan kerusuhan. Bahkan kata inlander diasosiasikan dengan status sosial yang lebih rendah daripada seekor anjing.

Sudah 80 tahun bangsa Indonesia merdeka, namun kenyataan membuktikan bahwa penjajahan belum sepenuhnya hilang. Bangsa Indonesia masih kerap minder terhadap bangsa lain, dan masih banyak di sekitar kita yang belum benar-benar merasakan kemerdekaan.
Maka bagaimana untuk membuat bangsa Indonesia menghilangkan cap
inlander pada dirinya, bagaimana cara membuat bangsa Indonesia bangga dan cinta pada tanah airnya?

INDONESIA BANGSA BERIMAN

Di Indonesia pernah berkembang banyak thoriqoh. Thoriqoh yang menuntun ruhani manusia menuju kepada Alloh melalui dzikir kalimat Tauhid dengan metode-metode khusus, dan melalui bimbingan seorang mursyid, beberapa diantaranya:

  1. Thoriqoh Qadiriyah 
  2. Thoriqoh Naqsyabandiyah 
  3. Thoriqoh Syadziliyah
  4. Thoriqoh Khalwatiyah 
  5. Thoriqoh Syattariyah
  6. Thoriqoh Samaniyah

Sejarah juga mencatat bagaimana peran besar kaum thoriqoh dan santri terhadap kemerdekaan bangsa, termasuk peristiwa yang melatar belakangi Hari Santri Nasional 22 Oktober. Lebih lengkapnya dapat dibaca pada: Hari Santri dan Usaha Mempertahankan Kemerdekaan Bangsa.

Kini, di Indonesia hanya ada satu Thoriqoh yang dibimbing langsung oleh seorang Mursyid, yakni Thoriqoh Shiddiqiyyah yang berpusat di Jombang , Jawa Timur.

Perkembangan thoriqoh di Indonesia sejalan dengan masuknya Islam melalui para wali dan ulama sufi. Ajaran tarekat yang bercorak sufistik dianggap menarik bagi masyarakat Nusantara, sehingga mempermudah proses Islamisasi.

Thoriqoh berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara, serta dalam membentuk karakter masyarakat yang memiliki nilai-nilai spiritual.

Mursyid Shiddiqiyyah, Syech Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi dalam bimbingannya, mengajarkan tashawwuf dan nila-nilai kebangsaan yang dirangkum dengan nama cinta tanah air atau chubbul wathon minal iman.

Beliau juga menyampaikan tujuan mendirikan pesantren-pesantren tersebut adalah untuk menghindari bencana besar yang tengah mengancam Indonesia, bencana longsornya jati diri bangsa atau hilangnya identitas sebuah bangsa. Dapat dibaca di:

Peran Shiddiqiyyah Dalam Kebangkitan Kesadaran Nasional dan Tumbuh Berkembang dengan Bijaksana

Thoriqoh Shiddiqiyyah Aktif Berorganisasi Untuk Indonesia Raya (Bagian 3).

Kyai mukhtar tumbuh di lingkungan pejuang kemerdekaan. Abahnya bernama Kyai Abdul Mu’thi salah seorang ketua SI di Jawa Timur, dan memiliki hubungan baik dengan ayah Soekarno juga Tjokroaminoto. Kakek Kyai Mukhtar juga seorang prajurit ulung yang sangat menentang pemerintahan penjajah.

Maka dari pemikiran maupun ajarannya tidak jauh dari persoalan sufi dan kebangsaan.
Dewasa ini, kita menyaksikan banyak orang berilmu namun belum mencapai kearifan, banyak hukum belum sepenuhnya menghadirkan keadilan, serta perekonomian yang belum merata bagi seluruh rakyat.

Permasalahan ini bukan semata-mata tanggung jawab para pemegang kekuasaan; seluruh bangsa Indonesia berkewajiban menjaga tanah air sebagai wujud rasa syukur kepada Dzat yang telah menganugerahkan kenikmatan negeri ini, serta sebagai penghormatan kepada para pejuang bangsa. Dalam ajaran Islam sendiri, cinta tanah air merupakan nilai yang dijunjung tinggi: “Chubbul Wathan Minal Iman”—cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Sebagai seorang sufi yang turut mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, Kiai Mukhtar banyak menyingkapkan keindahan dan keagungan Indonesia. OPSHID Media pun telah banyak menuliskan gagasan-gagasannya. Penjelasan-penjelasan tersebut membuka mata kita akan betapa indah, kaya, dan bermartabatnya bangsa ini, serta betapa agungnya dasar negara kita sebagai satu-satunya negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dengan mengenali begitu banyak nikmat yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia, niscaya tumbuh kecintaan terhadap tanah air. Dan dengan cinta tanah air itulah akan melahirkan sikap menjaga, merawat, dan memajukan negeri. (OPSHID Media)

------

 


Referensi: 

  1. Ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Muchammad Mukhtarulloh Mujtabaa Mu’thi.
  2. Gobee dan Adriaanse (1959). Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje  . P. Sj. van Koningsveld Snouck Hurgronje: moslim of niet? Een vergeten kwestie uit de koloniale geschiedenis  (Volume 29, issue 296–300) 1985. 
  3. Alexanderson, Kris. “A Dark State of Affairs: Hajj Networks, Pan-Islamism, and Dutch Colonial Surveillance during the Interwar Period” Journal of Social History, vol. 47 no. 4, 2014, pp. 1021–1041.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Sa’adatush S.