ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Dari Hutan Menuju Peradaban, Syekh Achmad Syuhada’ Pionir Munculnya Ploso - Jombang
30 Agustus 2025 17:00
Bersabdah Rosululloh SAW : Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, tidaklah bersyukur kepada Alloh.
Syekh Achmad Syuhada’ adalah pahlawan yang ikut serta berperang melawan Belanda. Dalam jurnal Syekh Achmad Syuhada’ sebelumnya sudah menjelaskan bagaimana keterlibatan beliau pada Perang Jawa yang terjadi pada 1925-1930. Bagi warga Shiddiqiyyah, Kyai Syuhada’ bukanlah nama yang asing. Pada tiap tanggal 6-7 Robi’ul Awwal Thoriqoh Shiddiqiyyah selalu mengadakan Chaul, sebagai bentuk rasa syukur karena telah ‘mbabat’ alas berawa-rawa hingga dapat ditinggali.
Siapakah sosok Mbah Syuhada’?
Syekh Achmad Syuhada’ adalah kakek dari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia dari jalur Syekh Al-Hajj Abdul Mu’thi. Beliau merupakan seorang Mursyid Kholwatiyyah serta ulama’ yang terus melawan segala bentuk penjajahan di tanah air. Meski Pangeran Diponegoro tertangkap, tak menyurutkan niatnya untuk terus menegakkan kebenaran dan kedamaian. Baca jurnal sebelumnya: Kyai Achmad Syuhada’ dan Jaringan Thoriqoh Penjaga Spirit Perlawanan Kolonialisme
PERBEDAAN STRATEGI DI AKHIR PERANG JAWA
Di akhir Perang Jawa Syekh Achmad Syuhada’ dan Pangeran Diponegoro berbeda pandangan mengenai strategi yang harus dijalankan selanjutnya. Diponegoro sudah banyak dipengaruhi kalangan keraton yang mendorong untuk menerima ajakan ‘persahabatan’ dari pihak Belanda dengan dalih agar tidak menimbulkan banyak korban jiwa.
Sedangkan Kyai Syuhada’ dan pasukan laskarnya menolak untuk berunding dalam bentuk apapun dengan Belanda. Bagi beliau, berunding sama saja dengan tunduk dengan perintah Belanda. Perbedaan inilah yang menimbulkan Komandan Strategi dalam Perang Jawa tersebut memilih mundur dan melanjukan perlawanan ke arah timur Jawa. Tak lama setelah Kyai Syuhada’ dan saudara-saudaranya melanjutkan perlawanan ke arah timur, terdengar berita dari mulut ke mulut bahwa Pangeran Diponegoro akan berunding dengan Jenderal De Kock di Magelang.
Dua peristiwa hijrahnya Syekh Achmad Syuhada’ beserta saudara-saudaranya ke timur dan tertangkapnya Pangeran Diponegoro terjadi di tahun yang sama, pada 1830. Tahun yang menandai berakhirnya komando Pangeran Diponegoro pada pasukannya. Namun bukan berarti Perang Jawa telah berakhir, karena komandan dan para pasukannya tetap melanjutkan perlawanan dengan cara penyebaran.
Namun ternyata perundingan itu hanya taktik yang digunakan Belanda untuk menjebak Pangeran Diponegoro dan pasukannya. Dalam perundingan tersebut Belanda berjanji untuk pergi dari tanah air. Dengan siasat yang digunakan Jenderal De Kock akhirnya berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan.
Kerugian perang Jawa meliputi matinya 15 ribu tentara yang terdiri dari 8 ribu orang jawa dan 7 ribu serdadu pribumi, beberapa perkebunan swasta asing rusak (tidak dapat dipanen) dan kemakmuran rakyat yang dijanjikan setelah peralihan kekusaan dari Inggris ke Belanda menjadi lenyap. Serta jika dihitung dari sisi biaya perang mencakup lebih dari 20 juta gulden, sedangkan dalam kurun waktu 1 tahun jika dikumpulkan Belanda hanya mendapat 2 hingga 5 juta gulden dari negara-negara yang dijajah.
Jika dihitung dengan nilai mata uang sekarang, berapa desiliun kerugian ini? Karena kekayaan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun habis dalam waktu singkat. Dan kerugian angka di atas tentu bukanlah hal yang sebenarnya diungkapkan. Perang Jawa juga dikenal dengan perang singkat yang mampu membuat Belanda dan sekutunya bangkrut.
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak