Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Dari Hutan Menuju Peradaban, Syekh Achmad Syuhada’ Pionir Munculnya Ploso - Jombang

30 Agustus 2025 17:00

Dari Hutan Menuju Peradaban, Syekh Achmad Syuhada’ Pionir Munculnya Ploso - Jombang

PESANTREN DUNGTURI DAN AWAL PERGERAKAN DI UTARA SUNGAI BRANTAS - JOMBANG

Tempat mengajar yang berupa rumah tinggal dan langgar tersebut dinamakan “Pesantren Dungturi”. Dinamakan Dungturi karena tanah bekas rawa-rawa itu banyak ditanami pohon turi, sedangkan Dung berasal dari kata Kedung bermakna ladang atau kebun. Berkat pengalaman-pengalaman beliau sebagai Komandan Strategi dalam perang Jawa, Pesantren Dungturi bisa bertahan meskipun polisi-polisi Belanda acapkali mengadakan patroli didaerah tersebut.

Meski memiliki Pesantren di utara sungai brantas Jombang, tidak semua murid dapat dengan mudah bertemu dengan Syekh Achmad Syuhada’. Hal ini ditengarai dari kebiasaan beliau yang melakukan safar (berkunjung) ke berbagai daerah untuk memastikan pergerakan laskar Perang Jawa tetap berjalan di daerah masing-masing. Ditambah beliau merupakan seorang Komandan Strategi yang sedang dicari-cari keberadaannya. Karena pemahamannya dalam bidang strategi itulah tak pernah sekalipun Belanda dapat melacak keberadaannya.

Hingga dua tahun setelahnya, muncullah maklumat pada tahun 1832, yang berisi sebuah instruksi bagi para Laskar Pangeran Diponegoro untuk menyebar ke penjuru Nusantara, termasuk Jombang. Terpilihnya Jombang sebagai tempat pelarian, atas dasar wilayahnya yang merupakan bekas imperium Majapahit dan cukup strategis untuk membangun basis perlawanan terhadap Belanda.

Jombang dipilih tentu bukanlah tanpa sebab, karena bisa dilihat beberapa tahun kemudian Jombang menjadi tempat munculnya pergerakan sebelum dan pasca Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Di tangan beliaulah tempat yang sebelumnya adalah rawa menjadi tempat yang bisa ditinggali dan banyak masyarakat menetap di sekitar rawa yang telah dikerjakan beliau. Tempat yang dulunya dikenal angker menjadi tempat yang ramai, diisi dengan berbagai macam kegiatan.

Tanpa ada ketekunan Kyai Syuhada’ dan adiknya Abdulloh, desa Losari kecamatan Ploso tidak akan seperti saat ini. Di tempat yang beliau pilih, beberapa tahun kemudian tempat tersebut menjadi pusat perdagangan di daerah Jombang Utara dan dibangunlah pasar perniagaan serta rel kereta api di depan tanah pekarangannya.

Selain meninggalkan tradisi pesantren dan semangat cinta Tanah Air, menurut cerita Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, Kyai Syuhada' lah yang memberikan nama kota Ploso, ditandai dengan penanaman pohon Ploso, yang sekarang tempatnya berada tepat di depan pasar Ploso. Di kemudian hari nama Ploso digunakan menjadi nama kecamatan, yang di masa depan ramai dikunjungi warga dari daerah di Indonesia maupun internasional.

Pada tanggal 7 Robi’ul Awwal 1323 H/ 12 Mei 1905 M Kyai Achmad Syuhada’ wafat. Jenazah beliau dimakamkan di belakang lokasi Pesantren yang merupakan makam keluarga. Pesantren Dungturi diteruskan Kyai Abdul Mu’thi yang kemudian diteruskan putranya Kyai Abdul Aziz. Ketika sang adik yaitu Syekh Mukhtar dirasa sudah siap, kemudian diteruskan oleh beliau.

Dan sekarang tanah yang beliau pilih untuk ditinggali menjadi pusat pendidikan pendidikan tashawwuf melalaui ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah. Di tanah tersebut berdiri Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah di Indonesia. Tanah pekarangan tersebut hingga sekarang menjadi rumah bagi anak dan cucunya. (OPSHID Media)

 

-----------

Bersumber :

  • Menyambut Haulnya Kyai Ahmad Syuhada’ ke 91 (1992) oleh Muchammad Mukhtar bin H. Abdul Mu’thi.
  • Kuasa Ramalan jiid 2 (2016) oleh Peter Carey.
  • Jejaring Ulama’ Diponegoro (2019) oleh Zainul Milal Bizawie.
  • Sejarah Singkat Mbah Kyai Ahmad Syuhada’ Bekas Prajurit Pangeran Diponegoro (1983) oleh Muchamad Munif.

 

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.