ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Dari Hutan Menuju Peradaban, Syekh Achmad Syuhada’ Pionir Munculnya Ploso - Jombang
30 Agustus 2025 17:00

HIJRAH KE TIMUR, ARAH TERBITNYA MATAHARI
Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). -Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. Al-Fath ayat 3-4).
Komandan Strategi Perang Jawa ini memilih berhijrah ke Jawa Timur bersama saudara-saudaranya. Beliau rela meninggalkan Kadilangu, Demak Bintoro menuju ke arah timur Jawa untuk meneruskan perlawanan pada penjajahan dengan jalan menyebarkan semangat cinta tanah air dengan mendirikan pusat ajaran agama.
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang, sampailah beliau dan rombongan di desa Semen kecamatan Terung kabupaten Sidoarjo. Untuk sementara Kyai Ahmad Syuhada’ bertempat tinggal di desa bersama saudara-saudaranya yaitu Kyai Mujarod, Nyai Amudah, Abdulloh dan Hazan Rozaq / Hasan Roji. Dalam perjalanan ini beliau tidak mengajak istrinya Nyai Musyrifah binti Achmad Murodi, beliau diminta untuk tetap tinggal di rumahnya Kadilangu sampai dirasa aman.
Tak lama lima bersaudara ini berpencar ketempat-tempat yang berbeda :
- Nyai Amudah hijrah ke Trosobo-Sidoarjo.
- Kyai Ahmad Mujarot hujrah ke Ngepot-Sidoarjo.
- Kyai Hazan Rozaq menuju desa Mejoyo kabupaten Gudo, Jombang.
- Dan Kyai Ahmad Syuhada’ bersama Abdulloh menuju desa Losari, kecamatan Ploso, Jombang.
Sesampainya Kyai Ahmad Syuhada’ dan Abdulloh di desa Losari, beliau mendapatkan sebidang tanah di daerah delta bagian utara Sungai Brantas. Tanah berawa-rawa itu dikenal oleh penduduk sekitar dengan tanah rowo Dungturi.
Didasari niat yang kuat, maka tanah yang berawa-rawa tersebut diupayakan untuk bisa dijadikan tanah perkarangan dan dapat ditinggali. Dari pagi hingga malam beliau bekerja meratakan tanah dari yang saat ini digunakan Tempat Penimbunan Kayu (TPK) sampai meluas ke arah selatan yang sekarang menjadi area Pondok Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah. Sedangkan adiknya Abdullah dari TPK meluas ke arah barat.
Melalui ketekunan dan keuletan selama berminggu-minngu sampai berganti bulan akhirnya usaha tersebut membuahkan hasil. Lalu dibangunlah rumah tempat tinggal dan surau (langar). Selang beberapa waktu setelah usai membangun rumah sebagai tempat tinggal dan surau, kakak beradik ini pergi ke Kadilangu, Demak untuk menjenguk dan menjemput keluarganya. Kemudian Kyai Ahmad Syuhada’ tinggal di desa Losari bersama istrinya, Nyai Masrifah dan putra-putrinya. Nyai Masyrifah binti Achmad Murodi asalnya dari Kajen, Pati.
Menurut tutur cerita Kyai Mukhtar, pada suatu waktu Nyai Masrifah dari dalam gubugnya mendengar Kyai Syuhada’ mempersiapkan tanah babatannya untuk menjadi pesantren dibantu oleh banyak orang, namun ketika Nyai Masrifah mengintip dari celah rumah didapati Kyai Achmad Syuhada’ sendiri. Semua terjadi atas kuasa Alloh dan hal ini menjadi bukti bahwa Kyai Syuhada’ memiliki tingkat spiritual yang tinggi.
Sebagai prajurit Pangeran Diponegoro dan sebagaimana cita-cita beliau untuk dapat mengusir penjajah dari bumi Nusantara tercinta ini, maka cara yang ditempuh oleh Kyai Ahmad Syuhada’ adalah mengajarkan nilai-nilai spiritual dan Cinta Tanah Air pada masyarakat di sekitarnya. Rumah tinggal dan surau hasil jerih payahnya tersebut digunakan untuk mendidik dan mengajar santri-santrinya agar mempunyai jiwa Patriotik serta diajarkan pula tentang pentingnya mempunyai Akhlaqul Karimah atau keluhuran budi pekerti.
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa