ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Hari Pahlawan: Bukti Jati Diri Indonesia Yang Gemparkan Dunia
10 November 2023 09:00

78 tahun Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan. Dalam mempertahankan kemerdekaan tersebut, terdapat peristiwa yang kini dikenal sebagai “Hari Pahlawan” pada tanggal 10 November. Mengapa 10 November disebut “Hari Pahlawan” bagi Indonesia?
Begitu banyak pejuang gagah berani yang berkorban membela kebenaran, berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan dari pihak yang ingin menguasai Indonesia. Terutamanya pada tanggal 10 November, yang mana hingga kini identik dengan kepahlawanannya, dan lokasi sejarah yakni Surabaya dapat terkenal dengan sebutannya “Kota Pahlawan”.
Sebab itu, Rakyat Indonesia kerap melaksanakan upacara bendera, mengheningkan cipta, dan mengingat kembali perjuangan-perjuangan para pahlawan yang mempertahankan kemerdekaan di pertempuran Surabaya ini.
SEKILAS SEJARAH
Belum lama Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, hanya dalam waktu 3 bulan (Agustus-November) sudah mengalami peristiwa yang menggemparkan dunia. Pada tanggal 19 September 1945, peristiwa heroik dimana arek-arek Suroboyo merobek bendera warna biru yang dikibarkan Belanda dan mengangkat kembali bendera Indonesia untuk mempertahankan harga diri Bangsa Indonesia, atau peristiwa yang biasa dikenal dengan Insiden Hotel Yamato (Hotel Majapahit), Insiden Bendera, ataupun Insiden Perobekan Bendera.
Begitu pun peran ulama’ dan para santri, lewat fatwa jihad dari ulama’-ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang dipimpin K.H Hasyim Asy’ari menggerakkan para santri untuk ikut berjuang membela bangsa dan tanah airnya, tanggal 22 Oktober, kini diketahui sebagai Hari Santri. Peristiwa-peristiwa besar tersebut juga berkaitan dengan rentetan kejadian yang puncaknya di 10 November Hari Pahlawan.
Berlanjut kepada pasukan sekutu yang diwakili tentara Inggris, di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby berlabuh di Surabaya bersama NICA (Netherland Indies Civil Administration) yang ingin menguasai kembali Indonesia. Pasukan itu datang untuk melucuti senjata tentara Jepang, 25 Oktober 1945.
Dua hari setelahnya, pasukan sekutu menyerbu penjara untuk membebaskan tawanan perang, yang di dalamnya terdapat perwira-perwira sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Allied Prisoners of War and Internees) yang ditawan Republik Indonesia, tanpa izin pemerintah RI.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur