ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Hari Pahlawan: Bukti Jati Diri Indonesia Yang Gemparkan Dunia
10 November 2023 09:00
Bahkan sekutu menyebarkan ribuan pamflet yang isinya provokasi supaya hanya sekutu yang boleh membawa senjata, sedangkan pelanggar akan ditembak. Hal ini menimbulkan kontak senjata antara arek-arek Suroboyo dan tentara sekutu.
Di tengah-tengah itu, Soekarno juga sempat berunding dengan pasukan Inggris yang dipimpin Brigjen Mallaby, sebagai bentuk gencatan senjata untuk meredakan situasi di Surabaya. Namun itu tak berlaku lama, sekutu melanggar perjanjian genjatan senjata dan bentrokan senjata tetap tak terhindari, hingga sampai pada peristiwa yang memicu puncaknya pertempuran di Surabaya, yaitu insiden kematian Brigjen Mallaby tanggal 30 Oktober.
Mayor Jendral EC Mansergh sebagai pengganti Brigjen Mallaby, mengeluarkan ultimatum setelah mengumpulkan cukup pasukan. Isi ultimatum tersebut menuntut pemerintah dan arek Suroboyo harus menyerahkan senjata kepada sekutu. Hal ini memicu kemarahan arek-arek Suroboyo, 09 November 1945.
Di puncak pertempuran Surabaya 10 November 1945, Bung Tomo berpidato membangkitkan jiwa-jiwa perjuangan dan semangat Rakyat Indonesia di Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan serta kehormatan tanah airnya. Pidato yang disiarkan di Radio Surabaya tersebut berhasil membakar api semangat arek-arek Suroboyo. Dengan berbekal semboyan “Merdeka atau mati”, arek-arek Suroboyo menjawab ultimatum Mansergh dengan ledakan Ismul ‘Adhom “Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar! Merdeka!!”.
Pertempuran yang memakan banyak sekali korban jiwa ini memiliki nilai tersendiri bagi kedua belah pihak. Hingga kini, pertempuran besar tersebut dikenal dengan Hari Pahlawan, menjadi lambang keberanian jiwa dan bulatnya tekad Rakyat Indonesia dalam membela tanah air serta kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia.
Di samping itu, pihak Inggris mencatat peristiwa tersebut sebagai peristiwa dengan kenangan yang pahit, seperti tewasnya Brigjen Mallaby yang pernah menjadi pemenang pertempuran dalam Perang Dunia ke 2. Mengutip dari buku “Sejarah Revolusi Kemerdekaan”, banyaknya korban dari pihak Inggris terbukti bahwa mereka menamakan Kota Surabaya pada waktu itu sebagai Inferno atau sebagai neraka bagi mereka. Bahkan mereka memiliki anggapan terhadap pertempuran-pertempuran di Surabaya sebagai “Penutup dari Perang Dunia 2”.
Betapa hebatnya peristiwa-peristiwa tersebut bagi Bangsa Indonesia. Dengan mempertaruhkan jiwa dan raga, mempertahankan harga diri, kehormatan, serta kejayaan tanah air Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang
- Mursyid Shiddiqiyyah Indonesia Pimpin Taubat Bersama Ala Tashawwuf
- Work From Future: Jawaban OPSHID Atas Job From Future
- Shiddiqiyyah Bangun Ratusan Rumah Gratis Menjelang Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Sambut Tahun Baru 1448 Hijriyyah, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Makna Organisasi Wali Songo
- Beras Uwi: Keseriusan Membangun Sistem dari Budidaya hingga Badan Usaha
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?