ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Snouck Hurgronje dan Usaha Kalangan Imperialis Untuk Melemahkan Tashowwuf di Indonesia
06 Agustus 2025 17:00

Sebelum diutus ke tanah Hindia Belada, Snouck lebih dulu mendatangi Mekkah pada tahun 1885, sebagai persiapan sebelum menjalankan misinya di Hindia Belanda. Dengan ditemani oleh Abu Bakar Djajadiningrat—seorang priyayi dari Pandeglang yang telah tinggal di Mekkah, dengan mudah Snouck diterima dan mendapatkan tempat di lingkungan ulama’ dan pelajar Islam di Mekkah.
Kedatangannya di Hindia Belanda pada tahun 1889 mendorong liputan rutin di media kolonial. "Dr. Snouck Hurgronje," lapor De Locomotief paling cepat pada 16 April 1889, ‘die zoals de lezer weet, op Java den Islam komt bestudeeren en tot het Heilige der Heiligen van den Islamiet is kunnen doordringen, droeg in Mekka den naam van Moefti Hadji Abdoel Gafar’. (seperti yang pembaca ketahui, ia datang ke Jawa untuk mempelajari Islam dan berhasil menembus Tanah Suci Islam, menyandang nama Mufti Hadji Abdul Gafar di Mekkah).
Keluarga Snouck Hugronje berasal dari keturunan Yahudi yang telah berasimilasi menjadi penganut Kristen fanatik di Belanda. Ayahnya, Jacobus Julianus Snouck Hurgonje, pernah menjabat sebagai pendeta di Gereja Hervormd Tholen, sementara ibunya bernama Anne Maria de Visser.
Kakeknya, Jan Scharp, adalah seorang penginjil fanatik di kota Rotterdam yang dapat dikatakan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Christiaan Snouck Hurgronje. Pada tahun 1824 Jan Scharp menyelesaikan buku berjudul “Korte schets over Mohammed en de Mohammadanen. Hendleiding voor de kwekelingen van het Nederlandsche Zendelinggenootschap,” (Sekilas tentang Muhammad dan Umat Muslim. Sebuah Manual untuk Mahasiswa Perhimpunan Misionaris Belanda). Buku ini menguraikan kelemahan ajaran Islam, disertai trik-trik melumpuhkan ajaran Islam dan menjadi pegangan wajib bagi calon penginjil Protestan yang akan diutus dalam misi ke Hindia Belanda.
Snouck dalam bukunya "Belanda dan Islam" (Nederland en de Islâm) mengatakan, "Sebenarnya dengan masalah Islam di Belanda? Tidak kurang dari segalanya. Satu-satunya solusi sejati untuk masalah ini terletak pada hubungan antara warga Muslim di negara Belanda dengan Belanda. Jika ini berhasil, maka tidak akan ada lagi masalah Islam; maka akan ada persatuan budaya yang cukup antara warga Ratu Belanda di pesisir Laut Utara dan warga Insulinde untuk menghilangkan perbedaan dalam praktik keagamaan dari makna politik dan sosialnya. Jika ini gagal, perkembangan intelektual orang Indonesia yang tak terelakkan dan semakin meningkat tentu akan mendorong mereka semakin jauh dari kita, karena dengan begitu orang lain selain kita akan mengambil alih kepemimpinan."
TASHOWWUF SEBAGAI BENTENG MELAWAN KEDHOLIMAN
Dr. Abu Hanifah menyatakan dalam bukunya Tjita-Tjita Perjoangan, bahwa ada tiga benteng yang melindungi Indonesia, sehingga walau ratusan tahun menghadapi penjajahan dengan bangsa yang sampai silih berganti 434 tahun lamanya, ajaran Islam di Indonesia tidak akan hilang, dan kemerdekaan terus diperjuangakan.
“Dari dulu benteng-benteng agama Islam diperdapat dalam golongan-golongan tarikah-tarikah, biar namanya Naksibandijah, Kadarijah, Satarijah, atau lain-lain. Dan pesantren-pesantren serta langgar-langar jang dikepalai oleh alim-ulama jang tinggi ilmunja dalam keagamaan menjadi pertahanan agama Islam terhadap banjir fikiran Barat dan fikiran moderen jang anti-agama.”
Di masa lampau, penduduk Indonesia yang beragama Islam pernah mencapai 94%, artinya baik itu kalangan priyayi atau rakyat bawah menyakini Islam sebagai agama yang benar. Ajarannya tidak hanya mengatur ibadah, tetapi mencangkup sosial, budaya, ekonomi, hingga tata negara. Inilah yang menyadarkan bangsa Indonesia kala itu, bahwa dirinya dan bangsanya tengah berada di bawah cengkraman pemerintah yang dholim, dan usaha untuk lepas dari segala bentuk penjajahan adalah Jihad Fi Sabilillah.
Dalam kitab Jami’us Shoghir jilid 2, bab huruf Shod ada satu hadits yang artinya demikian:
“Ada dua golongan dari sebagian manusia jika dua golongan itu baik, maka seluruh manusia itu baik dan tatkala dua golongan itu rusak, rusaklah masyarakat manusia, golongan ‘alim ulama’ dan golongan pimpinan pemerintah.”
Imam Ghozali juga menuliskan dalam kitabnya Al-Iqtishad fil I'tiqad yang dikutip dalam jurnal Political Philosophy of Al-Ghazali (2019), “religion is the foundation and the state power is its guardian, providing
protection and guaranteeing its inviolability” (agama adalah fondasinya dan kekuasaan negara adalah penjaganya, yang memberikan perlindungan dan menjamin keutuhannya).
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur