Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Snouck Hurgronje dan Usaha Kalangan Imperialis Untuk Melemahkan Tashowwuf di Indonesia 

06 Agustus 2025 17:00

Snouck Hurgronje dan Usaha Kalangan Imperialis Untuk Melemahkan Tashowwuf di Indonesia 

Pemerintah kolonial sangat mengkhawatirkan munculnya ajaran Islam dalam ranah tata kelola negara. Bagi Snouck Hurgronje musuh politik kolonial bukanlah Islam sebagai Agama, melainkan politik yang ber-asas ajaran Islam. Snouck memiliki visi dan pengetahuan luas tentang Islam—hasil penyusupan dan totalitasnya—dan dialah yang memberikan nasehat kepada kerajaan Belanda, bahwa Islam tidak mungkin dihancurkan dari bumi Nusantara, namun hanya bisa dilemahkan dengan cara-cara licik. 

Keberadaan thoriqoh yang berkembang pesat dan sulit dideteksi menambah kekhawatiran, karena dicurigai menjadi basis untuk mengumpulkan massa, menyusun strategi, dan pusat komando perlawanan terhadap pemerintah kolonial. 

Kecurigaan Belanda terhadap tarekat mendorong mereka melakukan berbagai tindakan represif, seperti yang terlihat dalam peristiwa Cianjur-Sukabumi tahun 1885, Cilegon-Banten tahun 1888, dan perlawanan di Garut tahun 1919. Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, para pemimpin dan pengikut tarekat kerap dijadikan pihak yang disalahkan, dituduh sebagai penggerak pemberontakan atau perancang perlawanan terhadap pemerintahan kolonial. 

Snouck menyadari dan memahami bahwa Islam mengajarkan nilai-nilai luhur Ketuhanan dan Kemanusiaan yang kuat, juga ajaran Cinta Tanah Air dan Persatuan, prinsip-prinsip inilah yang membuat Bangsa Indonesia  berhasil merdeka dan mempertahankan kemerdekaannya. 

Sejarah panjang intervensi dan manipulasi terhadap ajaran Islam di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje dan kalangan misionaris-orientalis, menunjukkan bahwa upaya melemahkan bangsa tidak selalu dilakukan dengan kekerasan, tetapi seringkali dengan cara yang lebih harus-merusak dari dalam, merongrong jati diri, dan penyelewangan sejarah hanyalah sebagai kecil contohnya. 

Apa yang terjadi di masa lampau bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin untuk melihat arah masa depan. Karena bangsa yang melupakan sejarah bangsanya akan mudah dikendalikan dan dipecah. 

Sudah saatnya generasi hari ini kembali menelusuri jejak-jejak perjuangan bangsanya—bukan sekadar mengenangnya, tetapi menjadikannya sebagai landasan untuk berdiri lebih teguh, lebih sadar, dan lebih kuat dalam menjaga bangsa dan jati dirinya. (OPSHID MEDIA)

 

————

Bersumber dari: 

  1. Steenbrink, Karel A (1993). Dutch colonialism and Indonesian Islam: contacts and conflicts, 1596-1950. 
  2. P. Sj. van Koningsveld Snouck Hurgronje: moslim of niet? Een vergeten kwestie uit de koloniale geschiedenis (Volume 29, issue 296–300) 1985. 
  3. K.Subroto (2017). Strategi Snouck Mengalahkan Jihad di Nusantara. Laporan Khusus, Edisi 1/Januari 2017. 
  4. Kirabaev, N., & Al-Janabi, M. (2019). Political Philosophy of Al-Ghazali. Atlantis Press. In Advances in Social Science, Education and Humanities Research (Vol. 329). 
  5. O.Hashem (1968). Menaklukkan Dunia Islam, Penerbit Japi Surabaja.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Sa’adatush S.