Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Snouck Hurgronje dan Usaha Kalangan Imperialis Untuk Melemahkan Tashowwuf di Indonesia 

06 Agustus 2025 17:00

Snouck Hurgronje dan Usaha Kalangan Imperialis Untuk Melemahkan Tashowwuf di Indonesia 

Berbagai cara telah ditempuh oleh kaum imperialis demi mempertahankan cengkraman kekuasaan mereka di Indonesia, termasuk dengan melemahkan pengaruh tashawwuf melalui peran misionaris-orientalis, salah seorang diantaranya bernama Snouck Hugronje. Dengan berbagai siasat, ia berusaha untuk mengikis rasa keimanan dan kemanusiaan yang menjadi fundamen perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan. 

Kedatangan kaum imperialis di Malaka pada tahun 1511 merupakan permulaan dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia untuk lepas dari segala bentuk penjajahan. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak lama bangsa Indonesia merupakan bangsa spiritualis, yang beriman pada tuhan yang Maha Esa, meski dengan jalan dan ajaran masing-masing. 

Spiritualitas bangsa Indonesia inilah yang dianggap sebagai ancaman terhadap hegemoni kaum imperialis di tanah jajahannya. Dan para misionaris-orientalis berperan dalam mengatur siasat untuk menghancurleburkan segala persatuan yang ada di Indonesia ini. 

Mengutip dari buku Menaklukkan Dunia Islam (O. Hashem:1968) “Timbulnya paham Orientalisme dalam sejarah adalah gerakan yang terjadi akibat gesekan antara dunia Barat dan Timur. Lebih mengerucut lagi yakni perang ideologi, serta perang peradaban antara Barat dan Timur...”. Gerakan ini menampakkan diri secara terorganisir pasca kekalahan bangsa Barat oleh Islam yang berkembang menjadi global kapitalis. 

MASUKNYA MISIONARIS-ORIENTALIS DI INDONESIA

Pada tahun 1873, Belanda mulai menginvasi wilayah Aceh yang kemudian menimbulkan Perang Aceh selama berapa dekade. Kaum imperialis Belanda sangat kesulitan dalam menaklukkan Aceh yang memiliki fondasi agama dan kekuatan prinsip dalam mempertahankan tanah Aceh dari jajahan Belanda, sehingga kerajaan Belanda perlu mendatangkan penasehatnya, yaitu orang-orang orientalis yang memang dikhususkan untuk mengobrak-abrik ajaran agama Islam yang menjadi benteng kekuatan rakyat Aceh dalam mempertahakan kedaulatannya.  

Sebelum abad ke-19 kolonial Belanda tidak berani mengusik urusan umat Islam. Namun, setelah banyaknya perlawanan yang muncul dengan dipimpin oleh para ulama’, membuat pemerintah membuka mata dan berkesimpulan bahwa kaum santri dan Thoriqoh memiliki keterkaitan erat dalam memotivasi gerakan “jihad” untuk melawan Belanda.   

Baru setelah C. Snouck Hurgronje datang pada tahun 1889, pemerintah Hindia Belanda mempunyai kebijakan yang jelas mengenai Islam di Nusantara ini. Berdasar pada penelitiannya terhadap umat muslim khususnya di Mekkah, Snouck Hurgronje menganggap bahwa pemerintah kolonial harus netral terhadap Islam sebagai agama, tetapi waspada terhadap Islam sebagai kekuatan dalam pemerintahan.

Ia memahami bahwa jika Islam kuat, maka upaya imperialis akan gagal. Yang kemudian agama harus dipisahkan dari urusan kenegaraan dan kebangsaan tapi harus menjadi urusan “spiritual” semata.

Mengutip dari artikel yang diterbitkan dalam jurnal sastra Belanda Tirade (Volume 29, issue 296–300) 1985, dengan judul P. Sj. van Koningsveld Snouck Hurgronje: moslim of niet? Een vergeten kwestie uit de koloniale geschiedenis (P. Sj. van Koningsveld Snouck Hurgronje: Muslim atau bukan? Sebuah isu yang terlupakan dari sejarah kolonial). 

"Deze had in rapporten herhaaldelijk gewezen op het politieke belang voor Nederland van de consulaire post in Djeddah. Onder de dekmantel van de bedevaart vonden via Arabië geheime wapenzendingen uit Istanbul naar Atjeh plaats; voortvluchtige opstandelingen, die door de Nederlandse autoriteiten werden gezocht, waren in het Heilige Land van de islam gesignaleerd en Mekka was, tenslotte, een broeinest van panislamitische agitatie, die via de hadji’s in schadelijke zin naar Indië kon doorwerken."

“Dalam laporan-laporan, Hendrik Cornelis Kruyt berulang kali menekankan pentingnya posisi konsuler di Jeddah bagi Belanda secara politis. Dengan kedok ibadah haji, pengiriman senjata rahasia dari Istanbul ke Aceh dilakukan melalui Arab; para pemberontak buronan, yang dicari oleh otoritas Belanda, telah terlihat di Tanah Suci Islam; dan, akhirnya, Mekkah menjadi pusat agitasi pan-Islam, yang melalui para haji, dapat berdampak buruk bagi Hindia Belanda.” Dari sinilah kemudian Parlemen Belanda menunjuk Snouck untuk menyelesaikan permasalahan di tanah kolonialnya. 

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Sa’adatush S.