Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kebangkitan Islam: Runtuhnya Propaganda Barat

04 Juli 2025 17:00

Kebangkitan Islam: Runtuhnya Propaganda Barat

“Bintang berputar, masa beralih, sejarah mengulang jejak…”

- Kyai Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu’thi


Dalam perjalanan zaman, dunia pernah menyaksikan kejayaan Islam yang memimpin ilmu pengetahuan, tata sosial, teknologi, seni, dan ekonomi, yang memberikan kontribusi besar pada peradaban. Tepatnya pada sekitar abad ke 8 hingga abad ke 13, terutama pada masa kekholifahan Umayyah dan Abbasiyyah.

Selain itu, ada juga peradaban Turki Utsmani (Ottoman) yang dimulai sekitar abad ke 16. Dan di setiap masa keemasan suatu golongan, akan ada pihak oposisi, baik itu yang bersebrangan secara ras/suku bangsa maupun ideologi, yang akan berupaya untuk menjatuhkan peradaban itu.

Di abad ke 21 ini, sayangnya, taring peradaban Islam di dunia masih belum mendominasi. Adalah Amerika Serikat—negara yang menjadi negara superpower atau negara adikuasa semenjak Perang Dunia ke II (PDII). Aslinya, negara adikuasa pasca PDII ada dua—Amerika dan Uni Soviet. Namun, runtuhnya rezim Uni Soviet pada tahun 1991–yang sedikit banyak disebabkan oleh pengaruh Amerika—menjadikan Amerika negara adikuasa tunggal yang bisa dibilang hingga saat ini masih berdiri.

Baca selengkapnya tentang pecahnya Uni Soviet di sini: Pecahnya Uni Soviet dan Kenapa Itu Jadi Tanda Kebangkitan Tashawuf

Amerika, dalam sejarahnya, bersedia untuk melakukan apapun demi menghapus potensi-potensi yang mampu mengancam posisinya sebagai negara adikuasa. Termasuk potensi yang datang dari Timur, peradaban Islam yang dulunya pernah jaya berabad-abad lamanya.

Di mana peran Islam dalam dunia yang dikuasai Amerika? Abad modern seringkali memperlihatkan narasi yang berbeda: Islam dijadikan kambing hitam dalam berbagai konflik global. Dalam narasi media Barat, Islam kerap disudutkan sebagai agama para ekstremis yang berbahaya bagi kedamaian dunia.

Contohnya, tentu anda sudah pernah menonton film Amerika yang memperlihatkan sang pahlawan—berkulit putih—yang umumnya seorang tentara/patriot kenegaraan, melawan penjahat yang seorang teroris dari ras Timur Tengah, berbicara bahasa Arab, dan memakai atribut-atribut Muslim seperti sorban. Kurang lebih seperti itulah propaganda yang dilukis barat untuk Muslim.

Namun, dengan serangkaian peristiwa yang terjadi pada beberapa tahun terakhir, kekuatan Barat mulai goyah dan suara-suara keadilan mulai terdengar dari Timur. Maka muncul satu pertanyaan: mungkinkah dunia tengah berputar kembali menuju kebangkitan peradaban Islam?

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida