ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kebangkitan Islam: Runtuhnya Propaganda Barat
04 Juli 2025 17:00

NARASI BARAT: ISLAM SEBAGAI ANCAMAN
Tragedi 11 September 2001 atau 9/11 menjadi titik balik dalam hubungan dunia Barat dengan dunia Islam, dan memutar secara drastis persepsi global terhadap Islam. Serangan terhadap menara kembar di New York langsung dikaitkan dengan identitas Muslim, bukan hanya dengan kelompok pelaku. Dari sinilah narasi “Islam sebagai ancaman” dibangun secara sistematis. Media global dibanjiri dengan istilah seperti “Islam radikal”, “jihadis”, dan “fundamentalisme”.
Namun, peristiwa 9/11 itu hanyalah “bendera palsu”. Osama bin Laden dan kelompok Al Qaeda yang berasal dari Afghanistan, terdakwa dari peristiwa 9/11, pada tahun 2001 sejatinya tidak se-‘canggih’ itu. Mereka tidak memiliki sumber daya maupun teknologi yang dibutuhkan untuk membajak sebuah pesawat komersil, apalagi itu pesawat Amerika.
Nyatanya, memburu Osama bin Laden menjadi pintu masuk bagi Amerika Serikat untuk mulai menancapkan cakar ke Timur Tengah. Dimulai dengan melibas habis Al Qaeda di Afghanistan dan membubarkan rezim Taliban, yang disebut oleh Presiden George W. Bush sebagai prestasi di mana “lima puluh juta orang telah dibebaskan dari dua rezim paling brutal dan agresif di dunia”, dikutip dari arsip resmi George W. Bush Whitehouse Government.
Amerika kemudian meluncurkan apa yang disebut sebagai Global War on Terror (perang melawan terorisme global), yang sejatinya adalah rangkaian perang dan intervensi militer di negara-negara Muslim. AS mulai menginvasi negara-negara Timur Tengah lain, perang Irak (2003) menjadi salah satu contoh paling gamblang. Dengan alasan keberadaan senjata pemusnah massal (Weapon of Mass Destruction/WMD) yang berpotensi mengancam keselamatan penduduk dunia, AS menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein dan memicu kekacauan panjang yang melahirkan kelompok-kelompok bersenjata seperti ISIS.
Tapi apa benar adanya WMD di Irak? Nyatanya, senjata pemusnah yang menjadi alasan invasi Irak itu tidak pernah ditemukan. Tapi satu hal yang pasti: pasca invasi Irak, Amerika memonopoli sumber daya minyak di Timur Tengah.
Dalih ancaman WMD atau—di hari ini, umum disebut senjata nuklir—juga digunakan lagi belum lama ini, sebagai dasar untuk meluncurkan serangan pada Iran. Narasinya masih sama, bahwa kaum di Timur Tengah adalah orang-orang liar yang seolah-olah akan menghancurkan seisi dunia apabila berhasil mengembangkan senjata nuklir.
Dalam sejarah, baru ada 1 negara yang cukup ‘liar’ untuk menjatuhkan bom nuklir—dua kali dalam waktu berdekatan—yaitu Amerika sendiri, di Hiroshima dan Nagasaki pada PDII. Kengerian yang diakibatkan bom nuklir—jatuhnya ribuan korban jiwa, tercemarnya tanah dan udara, dan kerusakan psikis—membuat bom nuklir tidak hanya menjadi kekuatan militer, tapi kini menjadi jaminan politik.
Dunia militer pasca PDII mengenal adanya teori MAD: Mutually Assured Destruction (kehancuran yang sama di kedua pihak—red), secara garis besar berarti sebab betapa destruktifnya bom nuklir, kedua negara yang berseteru tak akan menggunakannya karena pihaknya juga akan sama hancurnya. Maka dengan sama-sama memiliki nuklir, mengamankan negara itu dari serangan luar, tanpa pernah menggunakannya.
Iran memang sedang mengembangkan pengayaan uranium untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, dan pengembangan itu juga melibatkan dan diawasi oleh IAEA (International Atomic Energy Agency). Maka invasi Iran dengan alasan pengembangan nuklir bisa dibilang tidak mendasar. Kepemilikan nuklir dapat mengamankan Iran secara geopolitik, meskipun Iran diembargo oleh AS.
Lalu kali ini apa yang disasar oleh AS dari Iran? Kekuasaan bestie AS—Israel—secara penuh di Timur Tengah. Iran adalah batu besar yang mengganjal Israel dalam menguasai Timur Tengah sepenuhnya dan untuk menjadi Israel Raya, ketika negara-negara lain seperti Aran Saudi, Qatar, dan Yordan sudah di tangan Israel.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur