Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Komunis: Hantu Masa Lalu, Masihkah Menjadi Ancaman?

05 Februari 2025 17:00

Komunis: Hantu Masa Lalu, Masihkah Menjadi Ancaman?

Dalam buku Api Sejarah jilid 1 halaman 167 disebutkan bahwa Henk Sneevliet mengajak-ajak para kaum buruh untuk bersatu agar bisa menghancurkan kalangan menengah ke atas, “ajaranya disebarkan melalui selebaran yang berisikan ajakan kepada semua buruh agar bersatu. Hanya dengan revolusi buruh, Borjuis akan tumbang. Kaum buruh akan terbebas dari segenap penindasan”. Namun, sebenarnya bukan kalangan borjuis yang dituju tapi kalangan orang-orang terpelajar atau terdidik. Secara halus mereka ingin membuat kalangan buruh tak menyukai pendidikan—ajaran yang berseberangan dengan faham komunis.

Di bawah kepemimpinan Henk Sneevliet inilah, berdiri sebuah Organisasi Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). Selain Sneevliet terdapat juga beberapa tokoh lainnya yakni Samaoen, Darsono, dan DN Aidit. Organisasi ISDV inilah yang kemudian bertransformasi menjadi Organisasi PKI (Perserikatan Komunis Indonesia). Dasar ajaran ideologinya adalah komunisme yang anti agama, menjadikan PKI berseberangan dengan Sarikat Islam pimpinan Oemar Said Tjokroaminoto, Agoes Salim, dan Samanhoedi yang menuntut Indonesia Merdeka.

Dalam buku Api Sejarah jilid 1 edisi revisi, halaman 168 tertullis “mungkinkah keradjaan Protestan Belanda dan pemerintah Kolonial Belanda membiarkan lahirnya PKI yang dibangun Sneevliet, jika National Congres Centraal Sjarikat Islam di Bandung, 1916 M, tidak menuntut home rule atau pemerintaahan sendiri. Tidakkah ajaran Marxisme menentang ajaran agama Protestan. Dapat dipastikan pemerintah Kolonial Belanda tidak akan berkepentingan untuk membelah Sjarikat Islam dalam tubuhnya di Semarang. Sneevliet juga menolak tuntutan Indonesia Merdeka karena jika Indonesia merdeka, kaum buruh Belanda akan banyak yang menganggur”.

“Tidakkah heran jika adanya kesamaan kepentingan politik antara pemerintah Kolonial Belanda dan Sneevliet, terhadap bahaya tuntutan Congres Nasional Centraal Sjarikat Islam di Bandung, 1916 M maka pemerintah Kolonial Belanda membiarkan untuk sementara berdirinya PKI karena dampaknya membelah Central Sjarikat Islam dari dalam, melalui Sjarikat Islam Semarang”.

Jadi sudah jelas bahwa kedatangan Henk Sneevliet ke Indonesia tidak hanya sebagai seorang propagandis, tetapi ia juga sebagai alat Belanda dalam mengendalikan gerakan nasionalisme yang sedang tumbuh. Dari propaganda yang dibuatnya, kedatangan komunis ke Indonesia seolah-olah dibuat mengkhawatirkan bagi pemerintah Belanda padahal kenyataanya kedatangan mereka sebenarnya telah terencana dan menjadi bagian dari visi misi kolonialisme itu sendiri, gunanya untuk melemahkan spiritualisme dan nasionalisme bangsa Indonesia khususnya kaum-kaum tashawwuf.

Melalui propaganda tersebut, terdapat juga upaya menjadikan agama sebagai status sosial. Jika ingin mendapatkan kemudahan dari pemerintah Hindia Belanda, rakyat harus meyakini agama yang sama seperti mereka. Agama tidak lagi bersifat ketuhanan atau kepercayaan justru dijadikan sebagai alat untuk mengakui status sosial masyarakat. Akibatnya orang yang tidak satu golongan dengannya atau tidak mau mengikuti ajarannya akan dipandang rendah bahkan ditindas.

Ajaran komunisme yang dibawa oleh Henk Sneevliet semakin berkembang di Indonesia, ditandai dengan semakin besarnya Organisasi PKI. Dimana Sneevliet beserta antek-anteknya semakin terang-terangan dalam mengadakan revolusi-revolusi pemberontakan. Namun hal itu dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia bahwa mereka ingin mengobrak abrik persatuan Bangsa Indonesia.

Dengan demikian marilah kita meningkatkan kewaspaadaan nasional kita dari bahaya komunisme yang dewasa ini sedang bergerak secara laten.

Meskipun pada saat ini Organisasi Komunis di Indonesia telah hancur dan tercerai-berai, ditandai dengan telah tiadanya Partai Komunis Indonesia, akan tetapi benarkah faham-faham komunis ini telah lenyap bersama partainya?

Atau sebaliknya hingga kini sebenarnya faham komunisme masih berkembang di Indonesia menggunakan baju yang berbeda?

 

-------

Bersumber dari:

1. Ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi.

2. Bahaya Laten Komunisme Di Indonesia Jilid 1 (1991), oleh Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI.

3. Api Sejarah jilid 1, (2010), Ahmad Mansur Suryanegara, diterbitkan oleh: Suryadinasti Bandung.

4. Buku Menaklukkan Dunia Islam, oleh O. Hashem (1968), diterbitkan oleh: JAPI - Surabaya.

Penulis: Nur Mika Sari

Editor: Sa’adatush S.