Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Peringatan Hari Ibu : Kongres Perempuan Indonesia Pertama, Bukan Peringatan Feminisme

22 Desember 2024 07:00

Peringatan Hari Ibu : Kongres Perempuan Indonesia Pertama, Bukan Peringatan Feminisme

Peringatan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan peringatan Mother’s Day yang diperingati di banyak negara. Peringatan Hari Ibu (PHI) merupakan bentuk penghargaan terhadap perjuangan perempuan yang terjadi pada awal kebangkitan pergerakan di Indonesia. Bagaimana perbedaan Hari Ibu yang diperingati di berbagai negara dengan di Indonesia?

Di 75 negara, Hari Ibu diperingati pada Ahad pekan kedua bulan Mei. Sedangkan dibeberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day diperingati setiap 8 Maret. Tiap-tiap negara di dunia memiliki kisah masing-masing mengapa perlu diadakannya Hari Ibu atau Hari Perempuan. Di Indonesia,  Hari Ibu secara resmi ditetapkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada tahun 1959. Dilaksanakan peringatan Hari Ibu di Indonesia merujuk pada sejarah sebelum terjadinya kemerdekaan Bangsa Indonesia.

HARI IBU DALAM SEJARAH INDONESIA

Dalam sejarah Indonesia, tercatat Kongres Perempuan Indonesia pertama terjadi pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta di sebuah gedung Dalem Joyodipuran milik Raden Tumenggung Joyodipero. Pada masa itu sudah muncul bibit kebangkitan perjuangan perempuan di berbagai tempat. Para pahlawan perempuan yang ikut hadir, di antaranya: Tjuk Njak Dien dari Aceh, Nyi Ageng Serang dari Jawa Barat, RA Kartini dari Jawa Tengah, dan masih banyak lagi yang lain.

Kongres Perempuan Indonesia I dihadiri sekitar 30 organisasi wanita yang menyebar di Jawa dan Sumatera. Para perempuan tersebut terinspirasi dari perjuangan wanita era abad ke-19 untuk berjuang melawan para penjajah. Tujuan pengadaan Kongres Perempuan Indonesia I adalah mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan wanita Indonesia.

Selain itu untuk menyambung pertalian antara perkumpulan-perkumpulan wanita Indonesia. Kongres Indonesia Perempuan I melahirkan dua hal besar yang berdampak bagi kehidupan perempuan Indonesia, yaitu:

  1. Muncul hasrat untuk membentuk organisasi yang solid dengan kehadiran "Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI)".
  2. Melahirkan tiga mosi yang merajuk pada kemajuan perempuan, seperti tuntutan penambahan sekolah rendah untuk perempuan, perbaikan aturan dalam pernikahan, perbaikan aturan mengenai dukungan janda dan anak yatim.

Setelah itu, diadakan kongres lanjutan, yaitu Kongres Perempuan II, III, dan IV. Pada Kongres Perempuan III yang diadakan di Bandung pada 23-27 Juli 1938, mereka membahas mengenai tuntutan persamaan hak dan harga antara pria dan wanita. Persamaan itu juga harus dilandasi oleh kodrat serta kewajiban masing-masing.

Lebih lanjut, kongres ini menyetujui pula RUU tentang perkawinan modern yang disusun oleh Ny. Maria Ulfah. Dalam kongres ini pula Hari Ibu ditetapkan pada 22 Desember, yang merupakan tanggal berdirinya federasi perkumpulan wanita bernama Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI).

Kongres ini dilaksanakan setelah adanya Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda dan dikenalkan Lagu Indonesia Raya yang menjadi tonggak perlawanan Pemuda-Pemudi Indonesia untuk melawan penjajahan. Sebelumnya, organisasi-organisasi perempuan ini belum menjadi satu kesatuan, masih terbagi dalam beberapa organisasi antaranya: Aisiyah, Wanita Katolik, dan Putri Merdeka.

Dalam  pembahasan Kongres Pemuda Indonesia I yang terjadi pada 30 April-2 Mei 1928 menempatkan perempuan sebagai satu titik sentral pembahasan, mengenai kedudukan perempuan dalam masyarakat Indonesia.

Mengapa perempuan menjadi salah satu titik sentral pembahasan? Karena setiap perjuangan dan perlawanan juga membutuhkan peran perempuan di dalamnya. Hal ini berkaitan dengan penyebaran perlawan dari rumah ke rumah, yang tentunya dilakukan oleh kaum perempuan. Dalam hal ini juga merujuk pada perempuan menjadi madrasah pertama bagi seorang anak. Dan kongres ini bertujuan menyatukan perkumpulan perempuan Indonesia dalam satu perhimpunan perempuan Indonesia. Sehingga Kongres Perempuan pertama itu telah melahirkan langkah besar bagi kehidupan perempuan Indonesia. Salah satunya, tercapainya hasrat untuk membentuk sebuah organisasi perempuan yang solid yang dinamakan 'Perikatan Perempuan Indonesia'.

Dalam kongres tersebut juga melahirkan tiga mosi yang keseluruhannya berorientasi pada kemajuan perempuan. Mosi tersebut, yakni tuntutan penambahan sekolah rendah untuk anak perempuan Indonesia, perbaikan aturan dalam hal taklik nikah, dan perbaikan aturan tentang sokongan untuk janda dan anak yatim pegawai negeri.

Seiring berjalannya waktu, Peringatan Hari Ibu akhirnya diproklamirkan pada 22 Desember 1938. Deklarasi Peringatan Hari Ibu berlangsung saat Kongres Perempuan III yang dilaksanakan di Bandung. 

Penulis: Kholidah

Editor: Nuraida