ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Peringatan Hari Ibu : Kongres Perempuan Indonesia Pertama, Bukan Peringatan Feminisme
22 Desember 2024 07:00

FEMINISME, KEBEBASAN ADAB YANG MENGHILANGKAN RAHMAT TUHAN
Namun, hal tersebut menimbulkan beberapa masalah di kemudian hari. Dikutip dari jurnal Aliran Feminisme Modern Dan Aliran Feminisme Menurut Islam oleh Sri Hariati Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram :
"Di dalam kehidupan masyarakat di sana (Australia, sebagian kehidupan Barat) banyak sekali rumah tangga yang mengalami broken home. Hal itu terjadi akibat seringnya percekcokan yang disebabkan oleh sikap arogansi masing- masing dan terjadinya sekandal-sekandal dalam rumah tangga. Oleh karenanya, angka perceraian dalam kehidupan rumah tangga masyarakat di sana sangat tinggi. Anak-anak yang lahir dari hasil perselingkuhan pun sangat banyak serta banyak yang mengalami jiwa yang remuk. Tak jarang dia memberikan masukan sesuai dengan konsep Islam".
Hal tersebut dikarenakan kedengkian antar laki-laki maupun perempuan atau biasa disebut jealous, permasalahan yang terjadi akibat pembicaraan hak-hak dasar laki-laki dan perempuan. Belum lagi di beberapa lembaga, banyak sekali terjadi affair. Karena merupakan hal yang biasa seorang guru menganjurkan kepada para siswanya agar menggunakan kondom demi keamanan. Sehingga kebiasaan kumpul kebo menjadi hal yang lumrah di kehidupan masyarakat Barat.
Perhatikan pernyataan Friedrich Engels, "Revolusi bukan jaminan. Persamaan bagi laki-laki dan perempuan dirasa tidak cukup, karena kaum perempuan tetap dirugikan dengan adanya tanggung jawab domestik mereka, maka perempuan akan mencapai keadilan sejati jika urusan mengelola rumah tangga diubah bentuknya menjadi industri sosial, serta urusan menjaga dan mendidik anak menjadi urusan publik".
Demikian teori Marxis klasik, di mana terjadinya perubahan status perempuan hanya dapat melalui revolusi sosialis dengan cara menghapus pekerjaan domestik (rumah tangga).
Kebebasan berfikir yang mengakibatkan manusia jauh dari kodrat dan ketentuan agama, khususnya Islam. Dalam ajaran Agama; baik Islam, Kristen, Budha, Hindu maupun Konghuchu: Manusia Sama Derajatnya.
Menurut Dr. Mansour Fakih dalam buku Analisis Gender menyatakan tentang pandangan kaum wanita yang menentang feminisme. Setelah mereka berhasil mendobrak posisi kaum perempuan dari rumah tangga menjadi wanita karir, ternyata perjuangan itu sendiri justru menimbulkan bencana bagi mereka sendiri. Mereka menderita secara fisik maupun batin, karena diberi terlalu banyak equality (peluang yang sama).
Sehingga, kalimat Kesetaraan Gender dalam istilah feminisme justru menjadi jurang pemisah. Perbedaan yang tidak selayaknya diperuncing dengan menggunakan bahasa persamaan, yang secara psikologis dapat tertanam dalam alam bawah sadar. Dan jika berbicara tugas dan kodrat manusia; laki-laki dan perempuan memiliki peran dan tugas masing-masing.
Firman Alloh Ta'ala, surat Ibrahim ayat 26 disebutkan, "Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun".
Kaum feminis merasa tidak mendapat keadilan karena mereka terlalu mengandalkan konsep manusia yang penuh ketidakadilan. Karena itu, kalau kita dalami konsep ajaran Islam, perempuan justru ditempatkan dalam posisi yang terhormat. Sehingga perlulah menarik kesimpulan bahwa perbedaan itu adalah rochmat yang diberikan oleh Alloh Ta'ala tanpa harus menjadikannya setara di mata manusia.
Dalam Al Qur-an pun disebutkan, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang-orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”. (Q.S Al Chujurot/13). OPSHID Media
----------
Bersumber dari :
Jurnal Aliran Feminisme Modern Dan Aliran Feminisme Menurut Islam (2017), oleh Sri Hariati Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram.
Memahami Lebih Jauh Tentang Sejarah Peringatan Hari Ibu di Indonesia
Sejarah Hari Ibu yang Diperingati Setiap 22 Desember dan Maknanya
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur