ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiPeran Shiddiqiyyah Dalam Kebangkitan Kesadaran Nasional
· 5 menit baca · Diperbarui
SUMPAH PEMUDA DAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA
Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah senantiasa mengingatkan dan menghimbau para pemuda Shiddiqiyyah untuk mensyukuri momen Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya (28 Oktober 1928).
Momentum Sumpah Pemuda ini juga krusial terhadap kebangkitan nasional. Bahkan, Sumpah Pemuda inilah kebangkitan nasional yang sesungguhnya. Bagaimana tidak, dalam Sumpah Pemuda terdapat 3 butir sumpah yang dapat membangkitkan kesadaran nasionalis dalam jiwa bangsa Indonesia.
Belum lagi lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya yang terjadi pada peristiwa yang sama. Dalam lagu kebangsaa Indonesia Raya, terdapat lirik:
"Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya".
Inilah seruan kebangkitan nasional yang sesungguhnya. Kata 'bangkit' dan 'bangun', sama-sama memiliki arti perubahan posisi dari yang awalnya tidur/mati menjadi hidup. Dan hidupnya ini, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk Indonesia Raya.
Dikutip dari buku Jati Diri Bangsa, 2022, yang disusun oleh Ir. Haryo Sumantri dan Ir. Edi Setiawan, Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi menyampaikan:
Apa arti hidup apabila tidak bergerak.
Apa arti gerak apabila tidak kuat.
Apa arti gerak kuat, jika tidak positif.
Apa arti gerak positif, jika tidak manfaat untuk diri sendiri.
Apa arti gerak untuk diri sendiri, jika tidak manfaat untuk keluarga.
Apa arti manfaat untuk keluarga, jika tidak manfaat untuk masyarakat.
Apa arti manfaat untuk masyarakat, jika tidak untuk bangsa dan negara.
Apa arti manfaaat untuk bangsa dan negara jika tidak manfaat untuk seluruh manusia.
Dan apa arti manfaat untuk seluruh umat manusia, jika tidak untuk tuhanmu (mendapat ridlo Alloh).
Dan Sumpah Pemuda itu berkali-kali digaungkan nilai luhurnya oleh Sang Mursyid. Melalui OPSHID FKYME (Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa), Sumpah Pemuda itu ditasyakkuri dengan pembangunan Rumah Syukur Layak Huni untuk masyarakat yang berhak dan belum mendapatkan hunian yang layak.
Inilah peran besar Shiddiqiyyah dalam kebangkitan kesadaran nasional. Yang diterangkan penulis di atas, hanya sejumput dari bagaimana lekatnya ajaran Shiddiqiyyah dengan ajaran cinta tanah air. Namun sudah cukup untuk membuat Shiddiqiyyah pantas disebut sebagai benteng pertahanan NKRI dari longsornya jati diri Bangsa Indonesia. Karena Shiddiqiyyah mengajak jama'ahnya untuk meraih Ridlo Alloh melalui cinta pada tanah airnya. (OPSHID Media)
- Rumah Gratis Mezzanine untuk Ghoni, Guru BTQ Mengabdi Belasan Tahun
- Syekh Mukhtar Mu’thi: Hati dan Amal, 2 Hal Utama Penilaian Alloh
- Minim Biaya, OPSHID Madura Tetap Bangun Rumah Gratis
- Jelang Hari Pahlawan, PCTA Indonesia Bangun Rumah Gratis Untuk Janda di Tuban
- Rumah Gratis untuk Sriyatun, Janda di Pati
- Rumah Syukur OPSHID Dari Masa Ke Masa: 507 Rumah Gratis, 39 Miliar Rupiah
- Penerima Rumah Gratis OPSHID Tahun 2012 Berhasil Kuliahkan Anaknya
- Dari Toko Material ke Warung, Menelusuri Jejak Ekonomi di Balik Satu Rumah Syukur
- Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan
- Tinggal di Kios Jahit, Kini Buchori Dapat Rumah Gratis