ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Karnianto: Ayah Bunuh Diri, Ibu Dianggap Gila, Istri Kehilangan Anak Dalam Kandungan
30 September 2023 17:30

Meskipun demikian, Ibu seringkali mendapat isyarah akan suatu peristiwa yang belum terjadi. Salah satu contohnya, Ibu memberitahu Pak Karni bahwa jodohnya berada di Timur. Seolah ingin mengabaikan pesan itu, Pak Karni justru sengaja mencari pasangan di tempat lain, yang ternyata bukan jodohnya. Namun pada suatu ketika dalam sebuah perjalanan bis ke Ngawi, Pak Karni duduk bersebelahan dengan seorang wanita, yang memberinya sebuah permen. Begitu tiba di rumah dan diceritakannya pengalaman tersebut pada Ibu, beliau menjawab, "yo iku jodohmu" (ya itulah jodohmu). Betul saja, setelah sekian tahun, tepatnya pada tahun 2011, Pak Karni menikahi wanita tersebut yang bernama Ibu Ratri Wahyuni (32).

Ibu Ratri Wahyuni atau biasa disapa Ibu Tri tidak berdiam diri di rumah saja, tetapi juga membantu ekonomi keluarga. Keseharian Ibu Tri mencari sisa panen bawang merah, yang kemudian untuk dijual kembali.
Pak Karni dan Ibu Tri sangat mendambakan seorang anak. Dan atas karunia Alloh, setelah setahun menikah, Ibu Tri hamil. Namun disitu Pak Karni mengingat sebuah isyarah yang disampaikan oleh Ibunya sebelum menikah. Tepatnya pada tahun 2010, Ibunya pernah berpesan “besok setelah menikah, saat istrimu hamil 5 bulan, bayi tersebut akan diminta orang lain, kasihkan ya, yang sabar saja dan serahkan kepada yang Kuasa”.
Ternyata benar. Saat usia kandungan mencapai 5 bulan, bayi dalam kandungan hilang begitu saja.
"Ya tiba-tiba perutnya jadi kempes. Bidan yang memeriksa pun sampai tidak percaya", tutur Pak Karni.
Hal ini memang sulit dipahami dalam dunia medis. Dengan rasa tidak terimanya, Pak Karni mendatangi seseorang yang, bisa dibilang adalah dukun. Disitu, Pak Karni menerima 'resep' supaya bisa memiliki anak. Tetapi akhirnya Pak Karni menyadari bahwa hilangnya janin dalam kandungan istrinya, dicuri dengan cara yang sama.
"Saya sadar kalau cara seperti itu ya tidak benar. Kalau saya lakukan, akan ada bayinya orang lain yang hilang dan diberikan untuk saya. Saya tidak mau", tegas Pak Karni.
Semenjak kejadian tersebut, Pak Karni dan Bu Tri belum juga dikaruniai anak. Stigma negatif masyarakat sangat membuat tidak nyaman pasangan suami istri yang tergolong masih muda ini, “Gak ndang ndue anak, mbesok nek wes tuek pye” (tidak segera punya anak, besok kalau sudah tua bagaimana).
"Hidup manusia sudah digariskan, dikasih seperti ini saya ambil hikmahnya, disyukuri semoga ke depannya lebih baik", ujar Pak Karni, dengan segala ketabahan dan kepasrahannya kepada yang Maha Kuasa.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan