Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Wiji: Pencari Bekicot Asal Bojonegoro Harus Menanggung Hutang Lantaran Ditipu

01 November 2025 10:09

Wiji: Pencari Bekicot Asal Bojonegoro Harus Menanggung Hutang Lantaran Ditipu

Sepulang dari perjalanan spiritual itu, empat kambing peliharaannya mati. Dalam hati ia merenung, Iki lambang opo yo?” seolah itu menjadi ujian sebelum kabar bahagia datang. Taklama kemudian, pada tahun 2001, di usia 29 tahun, Alloh Ta'ala mengaruniakan seorang anak perempuan, Rita Wahyu Indriani, yang kini menjadi kebanggaan keluarga.

Wiji adalah sosok yang selalu mensyukuri apa pun yang diberikan Alloh. “Dapat rezeki apapun dari pekerjaan, saya syukuri sedoyo,” ucapnya. Ia yakin bahwa keberkahan bukan dilihat dari banyaknya harta, melainkan dari hati yang lapang dan keikhlasan memberi.

Suatu ketika, ia sempat bermimpi rumahnya dikencangkan ke arah utara. Dalam tafsir Jawa, itu pertanda baik. Tak lama kemudian, ia bersedekah Rp100.000, jumlah yang tidak kecil baginya. Dan beberapa waktu setelahnya, ia dipertemukan dengan OPSHID, organisasi pemuda penggiat kemanusiaan yang kemudian membangun rumahnya

PENCARI BEKICOT DAN PERJUANGAN BANGUN RUMAH 

Rumah yang kini ia tempati telah ada sejak tahun 1993. Sebelumnya, rumah itu hanya berupa gubuk dari bambu/anyaman lambat laun ia bisa meningkat dengan rumah yang berdindingkan dari gelam (kulit kayu jati). Setiap hasil kerja sebagai kuli bangunan, sedikit demi sedikit ia kumpulkan untuk membeli batu bata.

Tapi pekerjaan proyek kala itu sulit didapat, Wiji akhirnya memilih mencari bekicot. Ia menyebut pekerjaan itu sebagai jalan terakhir, tapi juga penuh makna. “Karena saya morat-marit omahe bekicot, rumah saya juga morat-maritno kaleh tiang, katanya dengan filosofi yang dalam.

Harga bekicot hanya sekitar Rp4.000 paling tinggi dihargai Rp5.000 per kilogram, dan dalam sehari ia bisa membawa pulang 12–15 kilogram. Namun, pernah suatu kali ia ditipu: hasil tangkapannya seberat 65 kilogram hanya dibayar Rp65.000. Meski sakit hati, ia tetap sabar.

Mencari bekicot bukan pekerjaan ringan. Ia harus masuk rawa, kuburan, dan hutan di malam hari. Tak jarang ia jatuh, bahkan nyaris celaka, tanpa ada yang menolong. Ia juga kerap merasakan gangguan gaib, tapi semua itu ia hadapi dengan do'a dan keuletan.

Dari hasil yang tak seberapa itulah ia tetap menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA. Namun, ia juga sempat berjanji kepada Alloh karena rasa bersalah merusak rumah bekicot, Kalau aku bisa bangun rumah bagus, aku tidak akan merusak rumah bekicot lagi.” Tak lama keinginannya terkabul ketika OPSHID datang untuk membangun rumahnya, ia berhenti mencari bekicot. Nazar itu menjadi bukti rasa syukurnya.

Putrinya, Rita Wahyu Indriani, menyimpan kenangan yang sangat menyentuh. Saat itu Wahyu diterima di sekolah favorit yakni di SMA 3 Bojonegoro. Tentu Wahyu sangat bahagia, namun ternyata Wiji dan istri tidak mengizinkan karena jaraknya terlalu jauh dan tidak ada kendaraan. Juga ada ke khawatiran tersendiri bagi Wiji jik melepas anaknya pulang-pergi sekolah dengan jarak jauh seorang diri.

Akhirnya, untuk merayu sang anak agar tidak sekolah di tempat itu, Wiji pada suatu hari mencari bekicot semalaman suntuk untuk membelikan sang putri tas Palazzo original seharga Rp450.000 agar sang putri mau sekolah dekat rumah. Bagi Wahyu itu kenangan yang menyentuh, sebab sebegitu besar cinta orang tua kepadanya, "Itu kenangan paling menyentuh", ujar Wahyu dengan mata berkaca-kaca. 

Buah hati Wiji kini telah dewasa, namun perjalanan hidupnya penuh ujian. Pernikahan anak tunggal yang ia jaga sepenuh hati harus kandas akibat KDRT.

Penulis: Kholidah

Editor: Nuraida