ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Wiji: Pencari Bekicot Asal Bojonegoro Harus Menanggung Hutang Lantaran Ditipu
01 November 2025 10:09
Di sudut Desa Sumberbendo, Kabupaten Bojonegoro, hidup seorang pria sederhana yang akrab disapa Pak Dando oleh warga sekitar. Nama aslinya Wiji, lahir pada tahun 1972, dan sejak kecil telah terbiasa menjalani kehidupan dengan kerja keras dan penuh ketulusan.
Ia adalah sosok yang penuh dengan semangat hidup yang jarang dimiliki orang lain. Bersama istrinya, Bu Indrati (49), dan putri semata wayangnya Rita Wahyu Indriani (24), mereka tinggal bertiga dalam rumah sederhana yang menjadi saksi dari perjalanan panjang hidup keluarga ini.
Sejak kecil, Wiji terbiasa hidup mandiri. Hari-harinya dihabiskan dengan angon (merawat hewan ternak) milik orang lain. Dari kegiatan itu, ia belajar arti tanggung jawab dan kerja keras. Saat beranjak dewasa, ia membantu perekonomian keluarga dengan berbagai pekerjaan, mulai dari bertani menanam jagung, mencari rongsokan, hingga mencari bekicot di rawa-rawa dan persawahan.
“Yang penting halal, tidak mencuri,” ujarnya ketika ditanya tentang alasannya menekuni banyak pekerjaan sekaligus.
Bagi Wiji, setiap keringat yang menetes adalah ibadah. Tak ada rasa malu, sebab yang ia kejar bukan harta berlimpah, melainkan keberkahan hidup.
Demi mencari pengalaman dan penghasilan, Pak Wiji pernah merantau jauh. Ia bekerja sebagai kuli proyek di berbagai daerah: Mojokerto, Kalimantan, Serang – Banten, Sumatera, hingga pedalaman Dayak. Pekerjaannya sebagai kuli untuk membangun rumah sakit, jalan, hingga gedung-gedung besar.
“Yang penting anakku bisa sekolah sampai lulus,” katanya lirih namun tegas. Semua jerih payah itu ia lakukan agar sang putri dapat menempuh pendidikan yang layak.
DELAPAN TAHUN MENUNGGU KEHADIRAN BUAH HATI
Kisah pertemuannya dengan sang istri juga sederhana namun romantis. Dulu, di era tanpa gawai, anak muda saling mengenal lewat kegiatan desa. Mereka pertama kali bertemu di acara layar tancap, hiburan rakyat untuk menayangkan film di lapangan atau teras rumah setiap kali ada hajatan. Dari pandangan pertama, benih cinta tumbuh. Tak ingin berlama-lama, Wiji segera melamar Indrati agar tidak didahului pemuda lain.
Hanya seminggu setelah pertemuan, lamaran dilakukan, dan mereka menikah pada tahun 1993. Setelah menikah, Wiji membawa istrinya ke rumah sederhana yang dibangunnya sendiri. Meski rumahnya berukuran kecil dan sederhana, rumah itu menjadi bukti kasih dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
Delapan tahun pertama pernikahan bukan masa yang mudah. Mereka belum juga dikaruniai anak. Namun, alih-alih putus asa, Wiji justru memperbanyak doa dan ikhtiar. Ia bahkan sempatkan berziarah ke Gunung Penanggungan dan Wali Songo untuk memohon kepada Alloh agar diberi keturunan.
- Santunan Nasional ke-22 Capai Miliaran Rupiah, Mursyid Shiddiqiyyah Berpesan: Jangan Terlena Tipu Daya Dunia
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya