ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sugiem: Korban PHP Bedah Rumah
09 November 2024 17:00

Jakarta Selatan—Memiliki rumah yang layak dan nyaman tentu menjadi keinginan bagi setiap keluarga, namun kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum bisa merasakan tinggal di rumah yang layak. Salah satunya ialah Sugiem (65) seorang janda tukang sayur yang tinggal di rumah yang sudah tak layak huni. Banyak yang mendatangi Subiyem menjanjikan akan memberi bantuan berupa bedah rumah. Namun semua janji-janji itu hanya meninggalkan sebuah harapan belaka.
Sugiem seorang perantauan yang berasal dari Jawa Tengah, ia pergi ke Ibu Kota Jakarta dengan sejuta harapan agar bisa kembali ke desa dengan membawa kesuksesan. Itulah harapan Sugiem puluhan tahun yang lalu saat meninggalkan rumahnya. Sudah puluhan tahun ia meninggalkan desa kelahirannya hingga ia sudah berkeluarga dan kini usianya sudah mencapai 65 tahun, namun rupanya kesuksesan itu masih jauh di pelupuk mata.
Sugiem kini sudah menetap menjadi penduduk Jakarta Selatan. Ia tinggal di Jl. Laksana RT 002/ 08. Kel. Lebak Bulus. Kec. Cilandak Jakarta Selatan. Sugiem mempunyai dua anak, anak yang pertama bernama Sundari (36) sudah menikah dan dikaruniai 4 orang anak, sedangkan anak keduanya bernama Harianto Wibowo (30) yang saat ini masih melajang.
Saat ini Sugiem tinggal bersama anak keduanya di rumah yang sangat tidak layak huni. Kendati demikian, rumah tersebut merupakan peninggalan Almarhum suaminya Cipto Miharjo yang telah meninggal dunia sekitar 20 tahun yang lalu. Setelah kepergian sang suami sehari-harinya Sugiem bekerja jualan sayuran dan jajan di depan rumahnya dengan dibantu Harianto. Dalam sehari uang yang didapat juga tidak menentu.“Penghasilan sehari kadang sampai 300ribu tapi kotor termasuk untuk modal jualan besoknya, kalau bersihnya ya hanya cukup untuk makan sehari” tutur Sugiem.
Biaya hidup di Jakarta yang lumayan besar menjadikan Sugiem tak bisa memperbaiki rumahnya yang kian hari semakin memburuk. Lambat laun rumahnya semakin rapuh, bocor dimana-mana, bahkan yang bisa ditempati hanya bagian ruang tamu, jika musim hujan datang mereka harus bergelut dengan air hujan yang masuk ke dalam rumahnya.
Penawaran bantuan berupa bedah rumah dari pihak-pihak tertentu kerap mendatangi Sugiem, tentu saja Sugiem bersama anaknya sangat gembira mendapat kabar tersebut. Namun dari beberapa tawaran tersebut tak ada satupun yang menjadi kenyataan.
“Sering dulu itu ada orang kesini, bilang mau membangunkan rumah, tapi nggak jadi, banyak penipuan. Dibilangin mau dapat bantuan tapi setelah itu nggak balik lagi kesini”, terang Sugiem. “Nggak jadi dibangunkan rumah ya udah, tetap di sini diam aja sampai sekarang”.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan