ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Nisfaiyah: Menenun Harapan Untuk Kelangsungan Hidup Putra Putrinya
18 September 2024 17:00
Lamongan—Di suatu hari di tahun 2020, seorang ibu yang tinggal di desa sentra tenun khas Lamongan menangis tersedu-sedu. Ia adalah ibu dari 4 orang anak yang semuanya masih di usia sekolah. Dan yang kelima, masih dikandung di rahimnya. Suaminya, terbaring lemah di tempat tidur karena sakit jantung.
Hari itu, si ibu tidak memiliki uang sama sekali. Jangankan untuk berobat suaminya, untuk makan anak-anak besok saja tidak tersisa sepeser pun. Di rumah sempit dan berdinding kayu triplek yang sudah lapuk itu juga tidak ada sebutir beras pun untuk dimasak.
Di usia kehamilan yang sudah lima bulan, seorang ibu harusnya menjaga diri dan juga bayi dalam kandungannya. Tapi bagi ibu itu, apabila ia tidak bekerja, tak akan ada masa depan untuk keluarganya. Dengan tekun, ia mengoperasikan alat tenun tradisional dari kayu yang terdapat di bagian depan rumahnya. Alat tenun yang memenuhi sebagian besar ruang tamu yang sempit itu, adalah sumber utama kehidupan keluarga mereka selama bertahun tahun. Bunyinya keras dan berisik saat alat tersebut dioperasikan untuk menenun selembar kain. Sehelai demi sehelai, benang terjalin menjadi kain. Layaknya kesabaran dan kedisiplinannya setiap hari, dengan berpasrah kepada Alloh, ia bisa menyambung hidupnya yang serba sulit hingga hari ini.
Dengan lirih, pikirannya melayang kemana-mana, membayangkan nasib suami dan anak-anaknya besok, lusa, dan hari seterusnya. “Harus makan apa kami?”, tangisnya. Tapi dengan cepat ia mengusap air matanya, di tengah malam ketika semua angota keluarganya tertidur ia berdo’a kepada Alloh. Dengan tegar ia menguatkan dirinya sendiri:
“Untuk apa aku sedih? Aku punya Alloh kok”.
Do’a dalam tangisnya itu rupanya menembus langit. Paginya seorang dermawan datang untuk berbagi makanan untuknya dan keluarganya. Tak henti-hentinya ia ucapkan terima kasih. Dan sedikit beliau tahu, kesabarannya itu akan membuahkan hasil yang indah, 4 tahun kemudian ketika sekelompok pemuda pemudi berpakaian biru datang ke rumah reyotnya dengan kabar gembira.
Ibu itu bernama Nisfaiyah.
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang