ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Nisfaiyah: Menenun Harapan Untuk Kelangsungan Hidup Putra Putrinya
18 September 2024 17:00

DARUKMI
Selain Nis, ada pula warga Desa Parengan yang mengalami nasib serupa dengan Nis, yaitu Darukmi. Darukmi adalah janda dengan 2 orang anak yang masih sekolah, yaitu Rio (11) dan Ria (10). Sehari-hari, Darukmi menafkahi keluarga dari hasilnya menjadi buruh sapu dan bersih-bersih di musholla dekat rumah dan di Madrasah, serta menjadi buruh seterika. Selain itu, Darukmi juga membuka jasa pijat, meski pelanggan pijatnya tak selalu ada.
Dengan penghasilan tak menentu yang berkisar antara 300-400 ribu per bulannya, Darukmi bisa memastikan kedua anaknya Rio dan Ria terus bersekolah. Semua ia lakukan sendiri selama 7 tahun, sejak suaminya meninggal tahun 2017.
Pada bulan September 2024, orang-orang tak dikenal tiba-tiba mendatangi rumahnya. Sempat takut dikira penagih utang, Darukmi senang bukan main karena ternyata orang-orang tak dikenal itu membawa kabar akan membangunkan rumah gratis untuk Darukmi. Namun harapannya sempat harus sirna karena masalah serupa, masalah tanah.
Begitu kabar tersebar bahwa rumah Darukmi akan dibangun ulang menjadi rumah yang layak, muncul pihak yang mengintervensi. Yaitu anak-anak suami Darukmi dari istri pertama, menyatakan tidak terima apabila tanah yang ditempati Darukmi sekarang dibangunkan rumah baru, karena tanah itu tidak hanya milik Rio dan Ria saja, tapi milik mereka juga. Darukmi menjadi sangat sedih mengira dia akan batal mendapat rumah gratis, karena tanahnya bersengketa.
Namun setelah diberi jalan keluar pada masalah tanah untuk Rumah Syukur Nis, OPSHID pun menawarkan pada Darukmi, bagaimana bila Rumah Syukur Darukmi dibangun tepat di sebelah Nis, di tanah baru yang sudah dibeli OPSHID. Tanpa pikir panjang, Darukmi dan keluarga setuju.
Pada sabtu (14/09/24) telah dilaksanakan peletakan batu syukur untuk dua rumah yang bersebelahan itu, rumah Nis dan rumah Darukmi. Dua orang wanita ini, yang tinggal di desa yang sama, dan secara ironis memiliki latar belakang dan nasib yang sama, dipertemukan oleh Berkat Rochmat Alloh di suatu jalan indah yang membawa kebahagiaan bagi keluarga mereka.
Proses yang berat ini, adalah jalan yang harus dilalui jiwa-jiwa OPSHID Lamongan atas niatan mereka untuk membangun Rumah Syukur di Desa Parengan. Rupanya desa ini memiliki nilai tersendiri bagi jiwa-jiwa OPSHID, bahkan bagi seluruh warga Shiddiqiyyah, karena Parengan adalah desa tempat Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, belanja kain dahulu ketika masih tinggal di Lamongan. Seperti yang tertulis di atas, Parengan adalah sentra tenun khas Lamongan. Atas dasar napak tilas, Parengan dipilih oleh OPSHID Lamongan untuk dibangunkan Rumah Syukur.
Kita pun dapat mengambil hikmah dari bagaimana sulitnya proses bagi jiwa-jiwa OPSHID Lamongan untuk bisa menyampaikan hak milik Nis dan Darukmi. Sesulit apapun, apabila kita bersandar dan percaya pada Berkat Rochmat Alloh, maka tidak ada yang tidak mungkin. Rezeki memang selalu tepat sasaran, Rumah Syukur ini memang sudah menjadi hak mereka. Semoga jalan terjal di kehidupan mereka telah usai hingga hanya ada kebahagiaan yang menyelimuti rumah baru mereka. (OPSHID Media)
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon